Scroll untuk baca artikel
BeritaKesehatan

Potensi Super Flu Memicu Kekhawatiran Global, Pakar: Risiko Pandemi Masih Rendah

258
×

Potensi Super Flu Memicu Kekhawatiran Global, Pakar: Risiko Pandemi Masih Rendah

Sebarkan artikel ini

Dpnews Indonesia || Jakarta – Kekhawatiran muncul di berbagai negara terkait potensi ancaman “super flu”, istilah populer yang merujuk pada varian influenza A (H3N2) subclade K yang menyebar cepat serta wabah flu burung H5N1 yang terus berlanjut.

Meski demikian, para ahli kesehatan menilai risiko menjadi pandemi besar seperti COVID-19 masih rendah, asalkan penanganan dilakukan secara cepat dan tepat.

Baca juga :  Timnas Indonesia Naik ke Peringkat 121 FIFA Ranking Maret 2026

Di Amerika Serikat, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan lonjakan kasus influenza musiman yang didominasi subclade K dari H3N2, menyebabkan beberapa rumah sakit di Inggris dan negara lain menetapkan status insiden kritis serta memberlakukan pembatasan ala pandemi di sekolah-sekolah.

Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan mencatat sedikitnya 62 kasus influenza A H3N2 subclade K hingga akhir Desember 2025, dengan Jawa Timur menjadi wilayah terbanyak.

Baca juga :  Dorman Borisman Meninggal Dunia Dalam Usia 73 Tahun

Sementara itu, ancaman flu burung H5N1 (bird flu) tetap menjadi perhatian utama dunia. Hingga awal 2026, CDC mencatat 71 kasus infeksi manusia di AS sejak 2024, mayoritas terkait paparan unggas atau sapi perah yang terinfeksi.

WHO melaporkan tidak ada bukti penularan antar manusia yang berkelanjutan, meski ada kasus asimtomatik dan potensi mutasi virus yang meningkatkan risiko transmisi manusia.

Baca juga :  Gelar Jumat Curhat, Kapolsek Maja Dengarkan Keluhan Masyarakat

Para ilmuwan dari berbagai negara, termasuk pernyataan terkini pada Januari 2026, menyebut situasi flu burung “completely out of control” di populasi hewan, sehingga potensi lompatan ke pandemi manusia tidak bisa diabaikan sepenuhnya.Gejala dan Penanganan

Gejala super flu (H3N2 subclade K) mirip influenza biasa namun cenderung lebih berat: demam tinggi, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan kelelahan ekstrem. Pada kelompok rentan (lansia, anak kecil, atau penderita penyakit penyerta), risiko komplikasi seperti pneumonia lebih tinggi.Pakar kesehatan menekankan penanganan dini sangat krusial.

Baca juga :  Koramil 1903 Bersama Pemdes Bojong Barat Serta Warga Melakukan Karya Bakti Pembersihan Pasar

“Segera konsultasi ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala, istirahat cukup, konsumsi suplemen pendukung imunitas, dan gunakan obat antiviral sesuai resep dokter,” kata pakar paru dari RS Universitas Airlangga.

Langkah Pencegahan dan Kewaspadaan Indonesia

Kementerian Kesehatan serta dinas kesehatan daerah telah meningkatkan surveilans intensif dan kesiapsiagaan belajar dari pengalaman COVID-19. Masyarakat diimbau:

Baca juga :  Cegah Banjir, Koramil 1905 Jatiluhur Bersama Warga Lakukan Karya Bhakti Di Desa Jatimekar

WHO dan CDC menegaskan risiko publik saat ini tetap rendah hingga moderat, terutama bagi masyarakat umum. Namun, kecepatan respons sebelum mencapai 10 kasus awal penularan manusia-menusia menjadi kunci mencegah eskalasi.

Hingga saat ini, belum ada indikasi super flu atau H5N1 akan segera menjadi pandemi global. Tetap waspada, namun tidak perlu panik berlebihan. Kesehatan adalah tanggung jawab bersama.

Baca juga :  Pemerintahan Kabupaten Majalengka Gelar Musrenbang RPJMD dan RKPD Tahun 2025 - 2029
Facebook Comments Box
error: Content is protected !!