Dpnews Indonesia || Jakarta – Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Basuki Hadimuljono mengidentifikasi sejumlah tantangan strategis dalam pengembangan proyek pemindahan ibu kota negara. Meski pembangunan fisik dinilai tidak terlalu rumit, koordinasi lintas sektor dan penyesuaian tata kelola menjadi fokus utama Otorita.
Dalam berbagai kesempatan, Basuki menekankan bahwa IKN sebagai proyek prioritas nasional menghadapi dinamika kompleks. Berikut tujuh tantangan utama yang disoroti:
1. Koordinasi antarinstansi pemerintah
Tantangan terbesar bukan pada teknis fisik, melainkan sinkronisasi antarlembaga untuk memastikan pelaksanaan proyek berjalan lancar.
2. Pengawasan eksekusi dan kualitas proyek
Memastikan kontraktor menjaga standar kualitas dan estetika tinggi sesuai visi IKN sebagai kota hutan yang modern.
3. Penyesuaian tata kelola akibat penambahan kementerian
Perubahan struktur kabinet dari 34 menjadi 48 kementerian memerlukan revisi desain infrastruktur pemerintahan, termasuk gedung legislatif dan yudikatif.
4. Masalah lahan dan investasi
Hambatan pembebasan lahan serta lambatnya realisasi investasi swasta dan asing menjadi prioritas yang terus diatasi Otorita.
5. Keterbatasan anggaran dan pendanaan
Ketergantungan pada APBN serta skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) memerlukan pengelolaan yang efisien dan transparan.
6. Kondisi alam dan kontur kawasan
Lokasi di tengah hutan dengan kontur tanah yang beragam menuntut solusi teknik khusus dan adaptasi desain.
7. Persiapan Pemdasus (Pemerintahan Daerah Khusus) IKN
Pembentukan otonomi khusus menuju target deklarasi ibu kota politik pada 2028, termasuk perpindahan aparatur sipil negara (ASN) dan transformasi kelembagaan.
Basuki optimistis bahwa seluruh tantangan tersebut dapat diatasi melalui komitmen bersama pemerintah pusat dan daerah. Pembangunan IKN terus berlanjut dengan fokus pada infrastruktur dasar dan kawasan inti pusat pemerintahan (KIPP) untuk mendukung target 2028.











