Dpnews Indonesia || Jakarta – Sejumlah ekonom memproyeksikan inflasi Indonesia pada Oktober 2026 akan melambat, baik secara bulanan maupun tahunan. Penurunan harga beras dan emas menjadi faktor utama yang menekan laju kenaikan harga secara keseluruhan.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan inflasi bulan lalu hanya mencapai 0,19 persen secara bulanan (month-to-month/MtM). Angka itu lebih rendah dibandingkan realisasi September 2026 yang sebesar 0,30 persen. Secara tahunan, inflasi diproyeksikan berada di level 3,19 persen year-on-year (YoY), melandai dari 3,28 persen pada bulan sebelumnya.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memberikan proyeksi yang sedikit lebih rendah, yakni 0,14 persen MtM dan 3,14 persen YoY. Inflasi inti juga diperkirakan stagnan atau melambat, masing-masing di kisaran 0,04–0,08 persen MtM dan 2,47–2,52 persen YoY.
Perlambatan ini ditopang oleh meredanya tekanan harga pangan bergejolak (volatile food). Harga beras di pasar induk, termasuk Pasar Cipinang, tercatat turun sekitar Rp400–Rp500 per kilogram berkat penyaluran bantuan pangan pemerintah dan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Penurunan harga emas perhiasan juga memberikan andil deflasi terhadap inflasi inti.
Meski demikian, sejumlah komoditas seperti cabai masih menjadi risiko. Ekonom lainnya justru memproyeksikan inflasi bulanan bisa lebih tinggi jika harga cabai terus naik. Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data resmi inflasi Oktober 2026 dalam waktu dekat.
Proyeksi ini masih berada dalam sasaran inflasi Bank Indonesia dan pemerintah yang ditetapkan di kisaran 2,5±1 persen.











