Dpnews Indonesia || Cianjur – Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-81 terasa berbeda di Perumahan Catur Siwi. Di RT 02 RW 18 Blok G3, Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, kemeriahan justru datang dari tawa dan sorak paling kecil. Para balita menjadi bintang utama dalam rangkaian acara 17 Agustus yang digelar warga setempat.
Lingkungan perumahan yang biasanya tenang mendadak hidup. Bendera merah putih dipasang berderet di tiap pagar, umbul-umbul dipasang melintang di jalan blok G3, dan anak anak berkumpul di depan rumah RT. Panitia sengaja menyiapkan lomba khusus untuk anak usia balita agar semangat kemerdekaan bisa dikenalkan sejak dini.
Sorotan paling ramai jatuh pada lomba makan kerupuk. Seutas tali dibentangkan, puluhan keping kerupuk digantung dengan benang. Pesertanya anak-anak usia 2 sampai 5 tahun yang masih pincang jalannya, namun semangatnya tidak kalah dari orang dewasa. Begitu aba-aba dilepas, suasana langsung pecah oleh sorak ibu-ibu dan tepuk tangan.
Cara mereka menggigit kerupuk menjadi tontonan tersendiri. Tidak ada yang langsung melahap. Satu per satu anak mendekati kerupuk yang bergoyang, menjulurkan leher, lalu menggigit sedikit demi sedikit. Ada yang sampai menjulurkan lidah, ada pula yang memejamkan mata karena geli. Kerupuk yang awalnya utuh perlahan habis karena gigitan kecil penuh kesabaran itu.
Kepolosan tingkah mereka membuat warga gemas. Ada peserta yang berputar-putar dulu sebelum menggigit, ada yang minta digendong sambil tetap berusaha menggapai kerupuk, dan ada yang tertawa sendiri ketika kerupuknya patah dan jatuh. Orang tua hanya bisa merekam dan tertawa, karena kalah dan menang bukan lagi soal penting di lomba ini.
Salah satu peserta yang paling mencuri perhatian bernama Ammar Aidzin Arafid. Usianya 5 tahun,Saat ditanya di sela lomba, Ammar, apa itu 17 Agustus?ia menjawab tanpa ragu, Indonesia, jawabannya singkat dan sederhana, tapi tepat. Karena memang itulah inti peringatan hari ini.
Momen seperti ini mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya upacara dan pidato. Ia juga hadir dalam cara anak-anak belajar mengenal bangsanya lewat permainan. Dari menggigit kerupuk yang digantung, mereka belajar tentang usaha, tentang tidak menyerah, dan tentang kebersamaan. Nilai-nilai itu disampaikan tanpa ceramah, hanya lewat tawa dan peluh kecil di pelipis mereka.
Ketua RT 02 mengatakan kegiatan ini sengaja dibuat ringan agar semua warga bisa ikut. Kami ingin anak-anak hafal 17 Agustus bukan karena dihafalkan, tapi karena dirasakan. Lihat saja, mereka senang sekali. Itu sudah cukup bagi kami, ujarnya. Panitia juga menyiapkan hadiah sederhana berupa mainan dan bingkisan agar anak-anak pulang dengan membawa cerita.
Hingga acara selesai, suasana di Blok G3 masih hangat. Lampu-lampu warna-warni tetap menyala, anak-anak masih berlarian membawa bendera kecil, dan orang tua duduk sambil ngobrol. Di tengah hiruk pikuk itu, satu hal terasa jelas. Kemerdekaan ke-81 ini dirayakan dengan cara paling jujur. Lewat polah anak-anak balita yang menggigit kerupuk, sambil belajar menyebut satu kata, Indonesia.











