Scroll untuk baca artikel
BeritaKesehatan

Kebiasaan Scroll Media Sosial Berlebih: Ancaman bagi Fungsi Otak dan Cara Mencegahnya

166
×

Kebiasaan Scroll Media Sosial Berlebih: Ancaman bagi Fungsi Otak dan Cara Mencegahnya

Sebarkan artikel ini

Dpnews Indonesia || Istilah brain rot yang menjadi Word of the Year Oxford University Press 2024 menggambarkan kondisi penurunan kemampuan mental atau intelektual yang dikaitkan dengan konsumsi berlebihan konten daring berkualitas rendah, terutama melalui media sosial. Fenomena ini semakin banyak dibahas seiring meningkatnya kebiasaan scrolling tanpa henti pada platform video pendek seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts.

Para ahli dan sejumlah penelitian mengaitkan kebiasaan tersebut dengan gejala seperti kabut otak (brain fog), kesulitan mempertahankan fokus, rentang perhatian yang memendek, masalah memori jangka pendek, kelelahan mental, serta peningkatan kecemasan atau stres. Mekanisme yang sering disebut melibatkan sistem reward otak. Desain infinite scrolling dan algoritma yang dipersonalisasi memicu pelepasan dopamin secara berulang, menciptakan siklus yang sulit dihentikan. Otak terbiasa dengan stimulasi cepat dan singkat, sehingga aktivitas yang membutuhkan konsentrasi mendalam—seperti membaca buku atau menyelesaikan tugas panjang—menjadi terasa lebih berat.

Baca juga :  Halal Bihalal, Pemkab Purwakarta Undang Diaspora dan Rekan Wartawan

Beberapa studi, termasuk meta-analisis dan penelitian longitudinal, menemukan asosiasi antara penggunaan video pendek yang tinggi dengan penurunan performa kognitif tertentu, terutama perhatian dan kontrol impuls. Penelitian lain mencatat hubungan dengan perubahan ketebalan korteks di area otak yang terkait memori dan pengambilan keputusan, meski para peneliti menekankan bahwa korelasi belum tentu berarti sebab-akibat langsung, dan dampak permanen masih membutuhkan bukti lebih kuat. Penggunaan layar yang berlebihan juga dapat mengganggu kualitas tidur melalui paparan cahaya biru, yang memperburuk kelelahan kognitif.

Baca juga :  CIMB Niaga Melalui Relawan Kejar Mimpi Kabupaten Cianjur Gelar Kegiatan Goes To School Di SD Negeri Mekarjaya 1 Sukaluyu

Langkah-langkah praktis mencegah atau mengurangi dampaknya

Para pakar kesehatan mental dan digital merekomendasikan pendekatan bertahap yang realistis:

  • Batasi waktu layar. Tetapkan batas harian untuk media sosial, misalnya 30–60 menit, dan manfaatkan fitur screen time bawaan ponsel atau aplikasi pembatas. Matikan notifikasi nonesensial agar tidak mudah tergoda membuka aplikasi.
  • Kurasi konten. Pilih akun atau platform yang memberikan informasi bermutu. Kurangi paparan konten yang hanya menghibur secara instan tanpa nilai.
  • Berikan jeda digital. Terapkan digital detox singkat, seperti 30–60 menit tanpa ponsel setiap pagi, atau satu hari tanpa media sosial dalam seminggu. Hindari scrolling setidaknya satu jam sebelum tidur.
  • Gantikan dengan aktivitas offline. Olahraga rutin (minimal 150 menit intensitas sedang per minggu), membaca buku fisik, meditasi atau mindfulness, serta interaksi sosial tatap muka membantu mengembalikan keseimbangan otak dan meningkatkan aliran darah ke area yang mendukung fungsi kognitif.
  • Latih fokus secara bertahap. Mulai dengan aktivitas yang menuntut perhatian berkelanjutan, seperti membaca artikel panjang atau menonton konten edukatif berdurasi lebih lama, untuk melatih kembali daya tahan konsentrasi.

Para ahli menekankan bahwa perubahan kecil yang konsisten dapat memperbaiki pola kognitif. Brain rot bukan diagnosis medis formal, melainkan istilah populer yang mencerminkan kekhawatiran nyata terhadap dampak kebiasaan digital berlebih. Dengan kesadaran dan pengelolaan yang tepat, pengguna tetap dapat memanfaatkan teknologi tanpa mengorbankan kejernihan berpikir.

Baca juga :  Andi Amran Sulaiman Pastikan Stok Beras Nasional Aman
Facebook Comments Box
error: Content is protected !!