Scroll untuk baca artikel
BeritaEkonomi

Krisis Ekonomi Global Picu Fenomena Tak Terduga: Dari Monopoli Pasar hingga “Resepsi” Gaya Argentina, Indonesia Bertahan dengan Fondasi Kuat

31
×

Krisis Ekonomi Global Picu Fenomena Tak Terduga: Dari Monopoli Pasar hingga “Resepsi” Gaya Argentina, Indonesia Bertahan dengan Fondasi Kuat

Sebarkan artikel ini

Dpnews Indonesia || Jakarta – Krisis ekonomi global yang dipicu gejolak geopolitik, lonjakan harga energi, dan ketidakpastian pasar keuangan terus menekan banyak negara. Dampaknya tidak hanya terasa di neraca perdagangan atau nilai tukar, melainkan memunculkan fenomena sosial yang tak terduga di tengah masyarakat.

Di sejumlah negara, tekanan ekonomi mendorong konsentrasi pasar. Perusahaan besar semakin mendominasi pasokan barang kebutuhan pokok, sementara pelaku usaha kecil kesulitan bersaing. Fenomena monopoli ini muncul sebagai respons terhadap gangguan rantai pasok dan kenaikan biaya produksi yang membatasi ruang gerak kompetisi.

Baca juga :  73 Pramuka Purwakarta Siap Mengibarkan Bendera di Jambore Daerah Jawa Barat 2025

Di Argentina, yang masih bergulat dengan dampak kebijakan penghematan ketat, masyarakat menunjukkan pola adaptasi unik. Meski daya beli tergerus dan kemiskinan masih tinggi, warga tetap menggelar acara sosial—dari resepsi sederhana hingga perayaan komunitas—sebagai cara menjaga solidaritas dan morale. Resiliensi sosial ini menjadi semacam “katup pengaman” di tengah tekanan ekonomi yang berkepanjangan.

Indonesia, meski merasakan tekanan serupa, menunjukkan ketahanan yang berbeda. Pertumbuhan ekonomi tetap di atas 5 persen, didukung konsumsi domestik, investasi hilirisasi, dan surplus neraca perdagangan nonmigas. Pemerintah dan otoritas moneter fokus menjaga stabilitas melalui pengendalian inflasi, pengelolaan subsidi energi yang lebih terarah, serta penguatan cadangan devisa.

Analis menilai fondasi ekonomi Indonesia relatif lebih solid dibanding krisis 1998. Struktur perbankan lebih sehat, utang luar negeri berjangka lebih panjang, dan diversifikasi ekspor terus digalakkan. Meski rupiah sempat tertekan dan pasar modal mengalami outflow, indikator riil seperti penyaluran kredit dan investasi masih bergerak positif.

“Kunci bertahan bukan hanya angka pertumbuhan, tetapi kemampuan menjaga daya beli masyarakat dan mencegah konsentrasi pasar yang merugikan pelaku usaha kecil,” ujar seorang ekonom independen.

Dengan kebijakan yang konsisten menjaga stabilitas makro dan mendorong sektor riil, Indonesia diharapkan mampu melewati gelombang ketidakpastian global tanpa terjebak dalam fenomena sosial yang merugikan. Tantangan tetap ada, namun fondasi yang ada memberi ruang untuk navigasi yang lebih terkendali.

Baca juga :  Penyerahan Anugerah Golden Awards Iwo Indonesia Pada Tokoh Masyarakat Indramayu
Facebook Comments Box
error: Content is protected !!