Dpnews Indonesia || Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan level terlemah sepanjang sejarah, menyentuh Rp 17.300 per USD. Pelemahan ini dipicu kombinasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan respons pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan.
Menurut data pasar terkini, rupiah sempat menyentuh kisaran Rp 17.200–Rp 17.300 per USD di perdagangan spot, melampaui rekor sebelumnya di sekitar Rp17.194. Pelemahan ini terjadi di tengah ekspektasi pasar yang lebih tinggi terhadap dolar AS sebagai aset safe haven akibat konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dan ketidakpastian global.
BI dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 21–22 April 2026 memutuskan mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Keputusan ini dinilai sebagai kejutan sebagian pelaku pasar yang sempat mengharapkan pelonggaran lebih lanjut. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal.
“BI akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing dan mengoptimalkan instrumen moneter lainnya untuk menjaga stabilitas,” kata Perry Warjiyo dalam konferensi pers pasca-RDG.Analis menyebut faktor utama pelemahan rupiah adalah outflow modal asing, harga komoditas energi yang naik akibat konflik Timur Tengah, serta kekhawatiran inflasi domestik. Meski demikian, BI menegaskan cadangan devisa masih memadai untuk menyangga mata uang nasional.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah dan BI terus memantau perkembangan pasar. Pelaku usaha diimbau mewaspadai dampak terhadap biaya impor dan inflasi, sementara investor menanti langkah stabilisasi lebih lanjut dari otoritas moneter.











