Dpnews Indonesia || Jakarta – Penelitian terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap potensi kombinasi tiga tanaman yang mudah ditemukan dan berharga murah di Indonesia sebagai agen penghambat pertumbuhan sel kanker. Ketiga tanaman tersebut adalah kunyit (Curcuma longa L.), daun sirsak (Annona muricata L.), dan bekatul beras hitam (Oryza sativa L.).
Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN ini menguji formula kombinasi ekstrak ketiga bahan tersebut secara in vitro terhadap sel kanker payudara T47D dan sel kanker kolon WiDr. Hasil uji menunjukkan aktivitas sitotoksik yang kuat serta kemampuan menghambat proliferasi sel kanker melalui efek sinergis senyawa bioaktif seperti fenolik, flavonoid, terpenoid, alkaloid, dan steroid.
Menurut peneliti Rizal Maarif Rukmana, formula optimal untuk sel kanker payudara terdiri dari ekstrak kunyit 11,1%, daun sirsak 86,4%, dan bekatul beras hitam 2,5%, dengan nilai IC50 sekitar 24,91 µg/mL. Sementara untuk sel kanker kolon, kombinasi terbaik didominasi kunyit (95,9%) dengan nilai IC50 32,18 µg/mL.
Riset ini dilatarbelakangi tingginya beban kasus kanker global dan kebutuhan akan terapi alternatif berbasis bahan alam yang lebih terjangkau. Penggunaan metode maserasi, karakterisasi dengan KLT dan LC-HRMS, serta desain simplex latte mendukung temuan ini.
Meski menjanjikan, peneliti menegaskan bahwa hasil ini masih pada tahap awal (in vitro). Diperlukan pengujian lebih lanjut pada hewan coba (in vivo) hingga uji klinis pada manusia untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya sebelum dapat dikembangkan menjadi obat standar.
Temuan BRIN ini diharapkan dapat mendukung pemanfaatan sumber daya hayati lokal Indonesia dalam upaya menciptakan terapi antikanker yang berkelanjutan dan memperkuat kemandirian kesehatan nasional. Masyarakat diimbau tidak mengonsumsi tanaman tersebut secara mandiri sebagai pengobatan kanker tanpa pengawasan medis.











