Dpnews Indonesia || Cianjur– Satuan Tugas Citarum Harum dan Sektor 6 Citarum harum meninjau langsung ke lokasi terus mengintensifkan upaya penertiban Keramba Jaring Apung atau KJA di Waduk Cirata. Pada Kamis kemarin, Tim Satgas CH melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi KJA di wilayah Sub Sektor 3, Blok Jatinengang, Desa Kamurang, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur.
Komandan Satgas Citarum Harum Kolonel Inf. Yanto Kusno Hendarto menyampaikan, jumlah KJA yang saat ini beroperasi di Waduk Cirata jauh melebihi daya dukung lingkungan. Berdasarkan data, terdapat sekitar 112.000 petak KJA, padahal sesuai Peraturan Gubernur Jawa Barat Tahun 2018 daya dukung maksimal hanya 277.200. “Jadi sangat banyak sekali kelebihannya,” tegas Dansatgas.
Kelebihan KJA tersebut berdampak langsung pada ekosistem waduk. Kolonel Yanto menjelaskan, sisa pakan ikan yang tidak habis menjadi sumber penyakit bagi ikan dan memicu pencemaran air. Kondisi ini terlihat nyata dari meluasnya eceng gondok di tiga waduk kaskade Citarum, yakni Cirata, Saguling, dan Jatiluhur.
“Ini menjadi pemikiran kita bersama. Program yang kami laksanakan ini tujuannya sangat baik. Kami mohon dukungan semua pihak agar secara bertahap jumlah KJA dapat ditekan sesuai daya dukung yang diharapkan dalam Pergub 2018,ujarnya.
Dalam operasi kali ini, Satgas berhasil lmembongkar 40 petak KJA berukuran 40 meter. Dansatgas menegaskan penertiban dilakukan dengan target pemotongan 10% dari KJA yang melebihi batas minimal 8 jam operasional. Ketentuan ini menjadi dasar agar penertiban berjalan terukur dan tidak menimbulkan gejolak sosial.
Agar tidak terjadi konflik antar pembudidaya, Satgas mengedepankan pendekatan humanis dan asas keadilan. Sebelum kegiatan pembongkaran, tim telah menggelar sosialisasi dan mengumpulkan para petani KJA. “Tidak ada tebang pilih. Mau lokal atau dari mana pun, semua disamaratakan dikenakan 10%. Sampai saat ini tidak ada konflik,” jelas Kolonel Yanto.
Ia juga menekankan bahwa penertiban bukan untuk menghalangi mata pencaharian masyarakat. “Pengurangan ini bukan berarti kami mengurangi penghasilan masyarakat. Kami ingin mengarahkan agar ekonomi dan ekosistem berjalan beriringan. Keduanya harus terjaga,” katanya.
Pasca penertiban, Satgas akan memastikan hasil yang sudah dicapai tidak kembali bertambah. Hal ini sejalan dengan arahan Pangdam III/Siliwangi saat koordinasi, yakni melaksanakan patroli terus-menerus di kawasan waduk agar KJA yang sudah dipotong tidak dipasang kembali.
Dansatgas berpesan kepada para petani agar memanen atau mengosongkan ikan terlebih dahulu sebelum KJA dibongkar. Langkah ini dilakukan untuk meminimalkan kerugian pembudidaya sekaligus menjaga kelancaran program.
Kegiatan ini melibatkan unsur lintas sektor, di antaranya Sekretariat Citarum Harum Bapak Sandi, Bapeda diwakili Ibu Dwi dan Ibu Dewi Losari serta Bapak Fikri, Tim PJT II, Tim Bongkar Wilayah Cianjur, PLN Nusantara Power, dan Bapak Dadang selaku Koorlap Lapangan.
Kolonel Yanto menutup dengan menegaskan komitmen Satgas Citarum Harum untuk melanjutkan program ini setiap tahun. “Target kami jelas, mencapai keseimbangan antara kebutuhan ekonomi masyarakat dan kelestarian Waduk Cirata sebagai sumber air bagi jutaan orang,” pungkasnya.











