Dpnews Indonesia || Jakarta – Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda memaksa penutupan sementara delapan bandar udara di wilayah Jawa dan Sumatra. Langkah ini diambil demi menjamin keselamatan penerbangan setelah abu terdeteksi di ruang udara sejumlah kawasan.
Berdasarkan Notice to Airmen (NOTAM) yang diterbitkan AirNav Indonesia, bandara yang berstatus closed meliputi Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK), Halim Perdanakusuma (HLP), Radin Inten II Lampung (TKG), Husein Sastranegara Bandung (BDO), Budiarto Curug, Pondok Cabe, Muhammad Taufiq Kiemas di Pesisir Barat Lampung, serta Atung Bungsu di Sumatera Selatan. Penutupan berlaku secara bertahap sejak dini hari hingga diperpanjang, dengan estimasi pembukaan kembali mengikuti perkembangan sebaran abu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebaran abu mencapai dua klaster ketinggian. Pada lapisan hingga 20.000 kaki, abu bergerak ke arah timur laut hingga selatan mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya. Sementara pada ketinggian hingga 50.000 kaki, sebaran mengarah barat daya hingga barat laut meliputi Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). BMKG terus memperbarui informasi melalui SIGMET dan pemantauan citra satelit Himawari secara berkala. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menegaskan bahwa penutupan bandara merupakan keputusan bersama sejumlah pihak terkait demi keselamatan.
BMKG mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk tetap waspada terhadap kemungkinan jatuhan abu, menggunakan masker jika beraktivitas di luar ruangan, serta mengikuti informasi resmi dari otoritas. Di sisi lain, masyarakat diminta tetap tenang karena situasi terus dipantau dan penutupan bersifat sementara sesuai perkembangan cuaca serta sebaran abu.
Penumpang yang penerbangannya terdampak diimbau memantau status penerbangan melalui maskapai atau otoritas bandara terkait. Pemantauan intensif terhadap aktivitas vulkanik dan pergerakan abu akan terus dilakukan hingga kondisi dinyatakan aman.











