Dpnews Indonesia || Jakarta – Bank Indonesia (BI) menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang berlanjut selama periode libur dan cuti bersama Idul Adha 1447 Hijriah disebabkan oleh kombinasi tekanan global dan faktor musiman domestik.
Menurut Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, tekanan utama berasal dari ketidakpastian global akibat konflik yang berlanjut di Timur Tengah. Situasi geopolitik tersebut mendorong penguatan dolar AS sebagai mata uang safe haven serta kenaikan harga minyak dunia.
“Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah,” ujar Denny dalam keterangan resmi pada Jumat (29/5/2026).
Selain faktor eksternal, rupiah juga tertekan oleh permintaan dolar AS yang tinggi di dalam negeri. Hal ini terkait kebutuhan musiman seperti pembayaran utang luar negeri korporasi, repatriasi dividen, serta kebutuhan valas lainnya selama periode April hingga Juni. Meski pasar domestik libur, perdagangan rupiah di pasar internasional tetap bergerak dan menunjukkan pelemahan.
Pada perdagangan Jumat (29/5/2026), rupiah ditutup melemah di kisaran Rp 17.880 per dolar AS. BI menyatakan terus memantau perkembangan dan siap melakukan intervensi yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Meski demikian, BI meyakini tekanan terhadap rupiah akan mereda mulai Juli 2026 seiring normalisasi permintaan valas musiman. Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat untuk menopang pemulihan nilai tukar ke depan.











