Dpnews Indonesia || Semarang – Pria berbaju hitam yang sempat viral karena terlibat keributan terkait pembuangan limbah bakso di kawasan Banyumanik, Kota Semarang, akhirnya membuka suara. Eka Kurniawan (56) mengaku dirinya hanya mencoba menengahi persoalan dan terbawa emosi saat kejadian.
Eka merupakan pengurus RT yang tinggal di seberang warung Bakso Bintang 2, tepat di samping rumah warga yang keberatan. Ia menegaskan bukan pemilik maupun karyawan warung bakso tersebut. Menurutnya, keributan terjadi Selasa (3/11/2026) malam sekitar pukul 22.30 WIB ketika suasana di depan rumah menjadi ramai.
“Saya keluar dan mencoba memediasi. Saya bilang, sudahlah malam-malam jangan ribut, suaranya keras tidak bagus. Monggo lapor ke RT supaya ditindaklanjuti di forum warga,” ujar Eka saat ditemui di lokasi, Rabu (4/11/2026).
Emosi memuncak ketika lawan bicaranya menanggapi dengan kalimat yang dianggap menyinggung. “Dia bilang ‘saya harus pakai bahasa apa? Bahasa hewan atau bahasa binatang?’. Otomatis saya terpancing karena saya orang tua,” jelasnya.
Persoalan bermula dari keluhan warga atas dugaan pembuangan sisa kuah dan kaldu bakso yang berminyak ke saluran got depan rumah. Bau tidak sedap dan kekhawatiran penyumbatan saluran menjadi alasan utama keberatan warga. Video kejadian kemudian beredar luas di media sosial dan memicu perhatian publik.
Setelah viral, sejumlah pihak terkait bergerak. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang menemukan adanya pelanggaran standar operasional prosedur (SOP). Mediasi digelar dengan melibatkan pihak warung, warga terdampak, aparat kecamatan, serta Polsek Banyumanik. Kesepakatan dicapai, di mana pemilik usaha berkomitmen memperbaiki pengelolaan limbah, termasuk penyediaan penampungan yang lebih layak.
Eka berharap persoalan ini menjadi pelajaran agar pengelolaan limbah usaha lebih tertib dan komunikasi antarwarga tetap terjaga. Ia menekankan niat awalnya semata-mata meredakan ketegangan di lingkungan tempat tinggalnya.











