Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

FSPMKI Soroti Mutasi Mendadak dr. Piprim SpA, Desak Kemenkes Fokus pada Tupoksi Utama

707
×

FSPMKI Soroti Mutasi Mendadak dr. Piprim SpA, Desak Kemenkes Fokus pada Tupoksi Utama

Sebarkan artikel ini

Dpnews Indonesia || Jakarta – Federasi Serikat Pekerja Medis dan Kesehatan Indonesia (FSPMKI) menyayangkan langkah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang memutasi dr. Piprim SpA secara mendadak. Ketua Umum FSPMKI, dr. Roy Sihotang, MARS, menilai kebijakan ini ugal-ugalan dan berpotensi memicu kegaduhan yang tidak perlu di tengah berbagai persoalan yang belum terselesaikan.

“Belum usai kegaduhan pemotongan THR karyawan RSUP Dr. Sardjito dan kasus perkosaan di RSHS, kini kami dikejutkan oleh mutasi tiba-tiba terhadap dr. Piprim SpA yang juga merupakan pengajar di RSCM-FKUI,” kata dr. Roy dalam keterangan tertulis, Sabtu 3 Mei 2025.

Baca juga :  Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Iwan Gunawan SH Sebagai Hakim Ad Hoc Pengadilan Hubungan Industrial di Pengadilan Negeri Ambon

Ia mendesak agar Menkes dan jajaran Kemenkes menghentikan proses mutasi tersebut dan membiarkan dr. Piprim tetap menjalankan peran strategisnya di RSCM dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Kendati Demikian saat di konfirmasi media melalui sambungan telepon dr. Roy Sihotang, MARS mengatakan Kemenkes seharusnya lebih fokus pada tugas pokok dan fungsinya, seperti memperbaiki sistem keamanan di rumah sakit vertikal agar kasus-kasus kejahatan seksual tidak kembali terjadi.

Baca juga :  Polisi Buru Dua Pelaku Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus di Jakarta

“Selain itu, sudah saatnya Menkes memperhatikan nasib para dokter peserta pendidikan spesialis (PPDS) yang bekerja keras di RS vertikal milik Kemenkes. Mereka seharusnya mulai diberikan upah yang layak, jangan terus-menerus ditunda,” tegasnya.

FSPMKI juga mencatat berbagai persoalan yang terjadi di bawah kepemimpinan Kemenkes dalam masa pemerintahan Presiden Prabowo. Di antaranya, kasus bullying terhadap dokter PPDS yang belum tuntas, pemotongan insentif THR di RS Sardjito, hingga lemahnya pengamanan di RSHS yang menyebabkan terjadinya kasus perkosaan.

Baca juga :  Program 100 Hari Kerja Bupati dan Wakil Bupati untuk Data Sosial yang Akurat

“Saya sarankan Menkes dan jajaran untuk fokus membenahi sistem kesehatan nasional, termasuk menurunkan angka stunting, mengurangi angka kematian ibu dan bayi, serta memperbaiki manajemen RS vertikal. Jangan malah membuat kebijakan yang memicu kegaduhan baru,” tutup dr. Roy Sihotang, MARS.

Baca juga :  Alumni PGAN Cianjur Angkatan 1987 Gelar Halal Bihalal
Facebook Comments Box
error: Content is protected !!