Dpnews Indonesia || Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah tidak berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi hingga akhir tahun 2026, meski harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan signifikan akibat gejolak di Timur Tengah.
Purbaya menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih memiliki daya tahan yang cukup untuk menyerap selisih harga tersebut, sehingga subsidi BBM dapat dipertahankan pada level saat ini.
“Sampai sekarang belum ada hitungan untuk menaikkan harga BBM karena kita punya uang masih cukup untuk level harga BBM yang sekarang,” kata Purbaya, seperti dikutip dari berbagai pernyataannya dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam kesempatan terpisah pada Rabu (25/3/2026), Purbaya kembali menegaskan di Kantor Kementerian Keuangan bahwa belum ada rencana penyesuaian atau pembatasan kuota BBM subsidi. Ia menilai saat ini masih terlalu dini untuk mengubah kebijakan tersebut.
“Setahu saya tidak ada penyesuaian kebijakan BBM subsidi. Jadi saya bilang, jangan diganggu dulu anggaran karena ini masih terlalu dini,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah lonjakan harga minyak dunia yang sempat melampaui US$100 per barel akibat konflik geopolitik. Purbaya menjelaskan bahwa APBN difungsikan sebagai shock absorber atau penyangga ekonomi, sehingga tekanan dari fluktuasi harga global tidak langsung dibebankan kepada masyarakat.
Meski demikian, Purbaya menyatakan keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden Prabowo Subianto. Ia juga menyebut bahwa jika harga minyak naik secara ekstrem, pemerintah akan melakukan evaluasi ulang. Hingga saat ini, pemerintah juga belum membahas pembatasan pembelian BBM subsidi.
Harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar saat ini tetap stabil sesuai kebijakan yang berlaku. Pernyataan Purbaya ini diharapkan dapat meredam spekulasi kenaikan harga yang sempat beredar di masyarakat.











