Scroll untuk baca artikel
BeritaEkonomi

Rupiah Melemah ke Level Rekor Rp 17.600 per Dolar AS, Inflasi dan Biaya Produksi Terancam Naik

50
×

Rupiah Melemah ke Level Rekor Rp 17.600 per Dolar AS, Inflasi dan Biaya Produksi Terancam Naik

Sebarkan artikel ini

Dpnews Indonesia || Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah dan mencatat rekor terendah baru di level Rp 17.600 per dolar AS pada Jumat (15/5/2026). Pelemahan ini dipengaruhi oleh penguatan dolar secara global serta tekanan dari faktor domestik seperti arus keluar modal asing dan kekhawatiran cadangan devisa.

Menurut data perdagangan terkini, rupiah telah mengalami penurunan mingguan berturut-turut, dengan tren pelemahan yang mencapai sekitar 0,5 persen dalam sepekan terakhir. Kondisi ini menempatkan rupiah pada level terlemah sepanjang sejarah, melampaui periode krisis moneter sebelumnya.

Baca juga :  Perayaan Malam Puncak HUT RI Ke-79 Di Perumahan Villa Kencana Cikarang

Dampak terhadap Perekonomian

Pelemahan rupiah berdampak langsung pada kenaikan harga barang impor, termasuk bahan baku produksi, obat-obatan, elektronik, serta pakan ternak. Ekonom dari LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menyatakan bahwa biaya produksi (cost of production) produsen domestik akan meningkat karena ketergantungan impor yang masih tinggi.

Hal ini berpotensi memicu tekanan inflasi dalam 2-3 bulan ke depan, yang pada akhirnya dapat menggerus daya beli masyarakat. Komoditas sehari-hari seperti plastik dan barang kebutuhan pokok lainnya sudah menunjukkan gejala kenaikan harga.

Baca juga :  Dua Jemaah Haji Asal Cianjur Belum Bisa Pulang, Satu Diantaranya Meninggal Dunia

Di sektor industri, pelemahan kurs menambah beban operasional manufaktur dan berisiko memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) jika tidak dikelola dengan baik. Sementara itu, pembayaran utang luar negeri pemerintah dan swasta dalam mata uang dolar menjadi lebih mahal, yang dapat memperlebar defisit anggaran negara.

Namun, Presiden Prabowo Subianto menanggapi isu ini dengan tenang, menyatakan bahwa fluktuasi rupiah tidak berdampak langsung signifikan bagi masyarakat pedesaan yang lebih bergantung pada kebutuhan pokok lokal. Pemerintah juga telah meluncurkan dana stabilisasi obligasi dan Bank Indonesia diharapkan merespons dengan kebijakan yang tepat, termasuk potensi kenaikan suku bunga acuan.

Analis memantau respons kebijakan moneter dan fiskal dalam waktu dekat untuk meredam dampak lebih lanjut. Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih resilient di sektor pangan dan energi, meski tantangan global seperti ketegangan geopolitik tetap menjadi risiko.

Baca juga :  ‎Pemkab Majalengka Serahkan Sertifikat Tanah Gratis Warga Desa Cipicung
Facebook Comments Box
error: Content is protected !!