Dpnews Indonesia || Jakarta – Saham PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) resmi masuk jajaran 10 emiten berkapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan data perdagangan Jumat, 6 November 2026, nilai kapitalisasi pasar emiten jasa keuangan Grup Sinar Mas ini mencapai Rp137 triliun dan menempati posisi ke-10.
Pencapaian tersebut menggeser posisi PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) yang terafiliasi dengan Grup Salim. Masuknya SMMA menandai kembalinya salah satu perusahaan Grup Sinar Mas ke kelompok elite valuasi pasar tertinggi, setelah sebelumnya emiten lain dari grup yang sama, yakni PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA), tersingkir dari daftar 10 besar.
SMMA merupakan holding jasa keuangan yang bergerak di bidang perbankan, asuransi, pembiayaan, dan sekuritas di bawah kendali keluarga Widjaja. Kehadirannya di peringkat atas terjadi di tengah dinamika pasar yang masih dibayangi sanksi berat dari Otoritas Jasa Keuangan.
OJK baru-baru ini menjatuhkan denda Rp1,5 triliun kepada PT Sinar Mas Tunggal terkait kasus manipulasi perdagangan saham DSSA. Sanksi tersebut menjadi yang terbesar dalam penegakan hukum pasar modal sepanjang Januari–Oktober 2026. Selain itu, PT Sinarmas Sekuritas dan sejumlah perusahaan sekuritas lain juga dikenai denda administratif dalam perkara yang sama.
Meski berada dalam naungan grup yang tengah menghadapi tekanan regulasi, SMMA berhasil mempertahankan dan bahkan memperkuat posisinya di bursa. Pergerakan harga sahamnya sepanjang tahun ini relatif solid, mendorong valuasi pasar tembus level tertinggi dalam daftar 10 besar.
Analis pasar menilai masuknya SMMA mencerminkan ketahanan bisnis jasa keuangan Grup Sinar Mas di tengah tantangan eksternal. Namun, investor tetap diimbau mencermati risiko reputasi dan dampak lanjutan dari sanksi OJK terhadap afiliasi grup.
Dengan kapitalisasi Rp137 triliun, SMMA kini berdiri sejajar dengan raksasa perbankan dan emiten teknologi di papan atas BEI, menandai babak baru bagi Grup Sinar Mas di pasar modal Indonesia.











