Dpnews Indonesia || Badung – PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyatakan siap berkontribusi dalam pembangunan transportasi massal berbasis rel di Bali. Namun, realisasi proyek ini membutuhkan dukungan kuat dari pemerintah daerah, terutama terkait penyediaan lahan dan perizinan.
Managing Director of Portfolio Management and Information Technology PT KAI, I Gede Darmayusa, menegaskan hal tersebut saat menjadi narasumber dalam diskusi di Universitas Udayana, Jimbaran, Kabupaten Badung, Kamis (5/11/2026).
“Kami di KAI bisa berkontribusi. Namun, jika diminta membangun dari nol, jelas tidak memungkinkan. Pemerintah setidaknya harus berperan dalam penyediaan lahan, perizinan, dan sosialisasi aspek budaya,” ujarnya.
Proyek yang dirancang berupa trem listrik berbasis baterai ini akan menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan wisata utama, yakni Kuta, Legian, Seminyak, hingga Canggu. Pembangunan direncanakan dalam dua fase. Fase pertama mencakup jalur dari bandara menuju Legian, dilanjutkan fase kedua dari Legian ke Canggu.
Anggaran yang dibutuhkan diperkirakan mencapai sekitar Rp2 triliun. Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin sebelumnya telah menyampaikan rencana ini kepada Presiden Prabowo Subianto. Presiden memberikan arahan agar proyek segera direalisasikan. Target pengerjaan keseluruhan sekitar dua tahun, dengan kemungkinan groundbreaking pada 2027.
Tujuan utama proyek adalah mengurai kemacetan di koridor bandara yang semakin padat seiring rencana perluasan kapasitas Bandara Ngurah Rai. Selain itu, moda transportasi baru ini diharapkan meningkatkan kenyamanan wisatawan sekaligus menjadi daya tarik tambahan bagi pariwisata Bali.
KAI menekankan bahwa perencanaan harus melibatkan pemerintah daerah, masyarakat adat, dan berbagai pemangku kepentingan agar proyek sejalan dengan karakter wilayah serta nilai budaya Bali. Kolaborasi yang solid dinilai sebagai syarat utama agar transportasi massal ini benar-benar hadir dan bermanfaat bagi masyarakat serta sektor pariwisata.











