Dpnews Indonesia || Denpasar, 19 Maret 2026 – Pulau Bali kembali memasuki suasana hening total hari ini saat umat Hindu melaksanakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Perayaan yang dimulai pukul 06.00 WITA pada Kamis (19/3) hingga pukul 06.00 WITA Jumat (20/3) ini berlangsung di tengah bulan Ramadan 1447 H, menciptakan momen langka harmoni antarumat beragama.
Seluruh aktivitas masyarakat Bali terhenti sesuai Catur Brata Penyepian, yaitu Amati Geni (tidak menyalakan api atau cahaya), Amati Lelungan (tidak bepergian), Amati Lelangguan (tidak melakukan hiburan), dan Amati Karya (tidak bekerja). Jalan-jalan utama di Denpasar, Badung, Gianyar, hingga kawasan wisata seperti Kuta dan Seminyak terlihat sepi tanpa kendaraan bermotor. Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menutup operasional penerbangan selama 24 jam penuh, dengan sekitar 440 penerbangan ditangguhkan kecuali untuk keadaan darurat.
Malam sebelumnya (18 Maret), suasana masih ramai dengan pawai Ogoh-ogoh di berbagai wilayah. Patung-patung raksasa simbol roh jahat itu diarak warga sebagai bagian upacara pengerupukan, menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara yang berada di Bali. Pawai serupa terlihat di Jimbaran, Denpasar, dan kawasan bandara, di mana ogoh-ogoh juga dipajang sebagai atraksi budaya.
Keunikan tahun ini terletak pada kedekatan waktu Nyepi dengan malam Takbiran Idulfitri 1447 H. Sebagai bentuk saling menghormati, umat Islam di Bali melaksanakan takbiran secara khidmat tanpa pengeras suara, petasan, atau bunyi-bunyian yang mengganggu. Kementerian Agama telah mengeluarkan panduan agar takbiran dilakukan di masjid atau mushola dengan berjalan kaki, menggunakan penerangan secukupnya, dan dibatasi waktu pukul 18.00–21.00 WITA.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan apresiasi atas toleransi yang terjaga.
“Nyepi di tengah Ramadan menjadi momentum memperkuat persaudaraan dan harmoni keberagaman,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Bagi wisatawan yang berada di hotel atau penginapan, Nyepi menjadi pengalaman unik merasakan “Pulau Gelap dan Sunyi”. Beberapa hotel menggelar kegiatan meditasi, yoga, atau pengamatan bintang untuk mengisi waktu tanpa melanggar aturan penyepian.
Perayaan Nyepi tahun ini menegaskan komitmen Bali dalam menjaga keseimbangan spiritual, alam, dan kehidupan sosial di tengah dinamika pariwisata dan keberagaman agama.











