Scroll untuk baca artikel
BeritaEkonomi

Harga Emas Dunia Anjlok Lebih dari 2,5 Persen dalam Sehari, Tertekan Inflasi dan Ekspektasi Suku Bunga Tinggi

137
×

Harga Emas Dunia Anjlok Lebih dari 2,5 Persen dalam Sehari, Tertekan Inflasi dan Ekspektasi Suku Bunga Tinggi

Sebarkan artikel ini

Dpnews Indonesia || Jakarta – Harga emas dunia kembali melemah tajam pada perdagangan Senin pagi WIB. Harga spot emas (XAU/USD) berada di level sekitar US$4.370 per ons troy, turun sekitar US$115–126 atau 2,58–2,77 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Penurunan ini melanjutkan tren koreksi yang telah berlangsung sejak awal Maret. Sepanjang pekan lalu, emas mencatat penurunan mingguan terbesar dalam beberapa tahun terakhir, dengan penurunan hingga 7–10 persen, terburuk sejak 2011 atau bahkan 1983 menurut beberapa analis. Secara bulanan, harga telah turun lebih dari 14 persen, meski masih naik sekitar 45 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Harga sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$5.600 per ons pada Januari 2026.

Baca juga :  Terseret Arus Kali Cikarang, 3 Bocah Ditemukan Telah Meninggal Dunia Desa Karangbaru

Menurut data dari Kitco, Goldprice.org, dan Trading Economics yang diakses Senin pagi, harga emas bergerak di kisaran US$4.360–4.390 per ons, dengan level terendah intraday mendekati US$4.320. Dalam rupiah, harga spot dunia setara sekitar Rp74,1 juta per ons atau Rp2,38 juta per gram (berdasarkan kurs sekitar Rp16.972 per dolar AS).

Penyebab Utama Penurunan

Analis pasar menjelaskan, penurunan emas kali ini tidak didominasi oleh faktor geopolitik semata. Meski konflik di Timur Tengah (termasuk eskalasi serangan AS-Israel terhadap Iran dan gangguan pasokan energi di Teluk Persia) memicu lonjakan harga minyak, justru hal itu memicu kekhawatiran inflasi baru.

Baca juga :  Dimintai Tanggapan Oknum Direktur PDAM Purwakarta Ajak Duel Jurnalis

Lonjakan harga energi mendorong ekspektasi bahwa bank sentral, termasuk Federal Reserve AS, akan menahan suku bunga lebih lama (higher for longer). Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS turut menekan daya tarik emas sebagai aset non-yielding. Investor pun melakukan aksi profit taking setelah reli panjang sebelumnya serta rebalancing portofolio.

“Lonjakan harga minyak akibat perang memicu inflasi, sehingga peluang pemangkasan suku bunga semakin kecil. Ini menjadi sentimen negatif bagi emas,” ujar analis seperti yang dikutip Kompas.com dan CNBC.

Baca juga :  Libur Weekend, Polres Purwakarta Intensifkan Patroli Objek Wisata

Prospek Ke Depan

Meski demikian, emas masih dianggap sebagai aset lindung nilai jangka panjang di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global. Beberapa analis memproyeksikan harga bisa kembali ke kisaran US$4.500 per ons pada akhir kuartal ini jika inflasi terkendali atau ada tanda-tanda pelonggaran kebijakan moneter. Namun, risiko penurunan lebih lanjut tetap ada jika dolar AS terus menguat dan yields naik.

Harga emas dunia dipantau ketat oleh pelaku pasar, termasuk investor ritel di Indonesia yang biasanya menyesuaikan dengan harga emas batangan lokal seperti Antam atau Pegadaian. Update real-time dapat diikuti melalui platform seperti TradingView, Kitco, atau situs berita keuangan terpercaya.Artikel ini disusun berdasarkan data pasar terkini per Senin, 23 Maret 2026, pukul 04.00–12.00 WIB. Harga komoditas dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar global.

Baca juga :  Bekali Kepala Desa Dengan Literasi Media, Gempur Hoaks Dan Bangun Partisipasi
Facebook Comments Box
error: Content is protected !!