Dpnews Indonesia || Minat masyarakat terhadap keris sebagai pusaka budaya Nusantara kini menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Fenomena ini tidak hanya terlihat di kota-kota besar, tetapi juga mulai menggeliat di daerah, termasuk di wilayah Ciranjang, Kabupaten Cianjur.
Kebangkitan ini menjadi angin segar bagi para pelaku usaha sekaligus pecinta budaya tradisional Indonesia. Salah satu sosok yang merasakan langsung dampak dari meningkatnya minat tersebut adalah Abah Bagas, seorang pedagang yang sebelumnya dikenal menjual batu cincin.
Kini, ia memutuskan untuk membanting setir dan beralih menjadi penjual keris. Lapak dagangannya yang terletak di samping pintu masuk Stasiun Kereta Api Ciranjang, Desa Ciranjang, Kecamatan Ciranjang, menjadi saksi hidup perubahan tren tersebut.
Saat dikonfirmasi, Abah Bagas mengungkapkan bahwa fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari kebangkitan kesadaran masyarakat terhadap nilai sejarah dan budaya. “Melihat fenomena sekarang di dunia perkerisan, dari segi pemasaran ini cukup bagus dan sangat menjanjikan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keuntungan dari penjualan keris tergolong tinggi, bahkan bisa mencapai lebih dari 50 hingga 60 persen. Hal ini tentu menjadi peluang ekonomi yang cukup menjanjikan bagi para pelaku usaha di bidang tersebut.
Menariknya, konsumen yang datang tidak hanya berasal dari sekitar Ciranjang saja. Sekitar 50 persen pembeli datang dari berbagai daerah seperti Warungkondang, Cikondang, hingga Bandung. Bahkan, ada juga pembeli yang datang dari luar Pulau Jawa, seperti Sumatra.
Menurut Abah Bagas, para pembeli keris saat ini semakin selektif. Mereka tidak hanya membeli dari segi bentuk, tetapi juga mempertimbangkan makna, filosofi, serta bahan dasar keris tersebut. “Banyak konsumen yang melihat dari segi besi, sepuh, dan juga nilai historisnya,” jelasnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa keris tidak lagi sekadar benda koleksi, melainkan simbol identitas dan kebanggaan budaya. Kebangkitan minat terhadap keris juga mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan warisan leluhur.
Abah Bagas pun berharap tren ini terus berkembang dan membawa dampak positif, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dalam pelestarian budaya bangsa. “Ini menjadi simbol bahwa peradaban kita masih dihargai,” tutupnya.











