Dpnews Indonesia || Cianjur – Warga Kampung Cisaat RT 01/08, Desa Sabandar, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, Nanang (45), masih harus bertahan di rumah yang kondisinya jauh dari kata layak. Atap yang bocor hampir di seluruh bagian, dinding rapuh, dan struktur bangunan melemah membuat rumah itu lebih mirip ancaman ketimbang tempat berlindung.
Kondisi memprihatinkan ini terjadi di tengah gencarnya klaim program bantuan sosial untuk masyarakat kurang mampu. Bagi Nanang dan keluarganya, bantuan tersebut hingga kini belum dirasakan secara nyata, padahal kebutuhan perbaikan rumah sudah sangat mendesak.
Memasuki musim penghujan, situasi kian mengkhawatirkan. Air tidak lagi sekadar menetes, melainkan masuk lewat berbagai celah dan menggenangi bagian dalam rumah. Keluarga kecil itu terpaksa beradaptasi dengan kondisi yang seharusnya tidak bisa ditoleransi.
Ditemui Minggu (12/4/2026), Nanang menyampaikan keluhannya dengan nada lirih. “Ya gimana Pak, kondisi begini… makan saja kadang kurang layak. Rumah juga bocor di mana-mana. Katanya ada program bantuan, tapi sampai sekarang belum terasa. Jawabannya selalu soal rezeki saja,” ujarnya.
Menurut Nanang, kerusakan rumahnya sudah berlangsung lama. Karena keterbatasan biaya, ia tak mampu memperbaiki sendiri. Kini setiap hujan turun, rasa cemas muncul karena khawatir bangunan roboh. “Kalau hujan, pasti bocor semua. Sudah tidak bisa diperbaiki sendiri. Takutnya malah roboh,” tambahnya.
Nanang tinggal bersama istri dan dua anak, salah satunya masih kelas 1 SMP dan seorang balita usia 3 tahun. Bagi mereka, rumah yang seharusnya jadi tempat paling aman justru berubah menjadi sumber kecemasan setiap langit mendung. Aspek psikologis ikut tertekan karena hidup dalam ketidakpastian.
Harapan Nanang sederhana: ada perhatian nyata, bukan sekadar janji. Ia menilai kondisi seperti yang dialaminya seharusnya jadi prioritas program perbaikan rumah tidak layak huni. “Harapannya ya ada yang melihat langsung kondisi kami. Jangan hanya yang mampu saja yang dibangun,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sabandar Dedi Saepudin menyebut bantuan untuk Nanang masih dalam proses pengajuan. “Belum ada bantuannya, sedang diperjuangkan,” katanya singkat. Jawaban itu memunculkan pertanyaan: seberapa lama lagi proses berjalan sementara risiko keselamatan kian nyata setiap hujan deras turun.
Kisah Nanang menjadi cermin bahwa keberhasilan program bantuan tidak cukup diukur dari laporan di atas kertas, melainkan dari dampak nyata bagi warga yang paling membutuhkan. Hingga kini, ia dan keluarga masih bertahan di bawah atap bocor, menunggu bantuan yang bukan lagi soal administrasi, tapi soal keselamatan.











