Dpnews Indonesia || Jakarta – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia diprediksi masih berlanjut. Menurut riset terbaru yang dirilis hari ini, sebanyak 20 ribu buruh di berbagai sektor terancam kehilangan pekerjaan dalam waktu dekat.
Riset yang dilakukan oleh lembaga kajian ketenagakerjaan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi pascapandemi belum merata. Beberapa faktor utama yang menjadi pemicu adalah efisiensi biaya perusahaan akibat tekanan inflasi, perubahan teknologi, serta penurunan permintaan ekspor di sektor manufaktur dan tekstil.
“Meski angka pengangguran secara nasional relatif stabil, ancaman PHK massal di level perusahaan masih tinggi, terutama di wilayah industri Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah,” ungkap salah satu peneliti utama dalam keterangan resminya.
Data riset juga menyebutkan bahwa kelompok buruh kontrak dan pekerja informal menjadi yang paling rentan. Hingga saat ini, beberapa perusahaan besar telah mengumumkan rencana restrukturisasi yang berpotensi berdampak pada ribuan karyawan.
Kementerian Ketenagakerjaan menyatakan sedang memantau situasi ini dan mendorong dialog antara perusahaan dengan serikat pekerja untuk meminimalkan dampak sosial. Pemerintah juga menyiapkan program pelatihan dan penyerapan tenaga kerja baru guna mengantisipasi lonjakan pengangguran.
Perkembangan lebih lanjut mengenai gelombang PHK ini akan terus dipantau.











