Scroll untuk baca artikel
BeritaEkonomi

Rupiah Melemah, UMKM Cianjur Tertekan Kenaikan Biaya Produksi

51
×

Rupiah Melemah, UMKM Cianjur Tertekan Kenaikan Biaya Produksi

Sebarkan artikel ini

Dpnews Indonesia || Cianjur – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai terasa nyata di tingkat usaha mikro, kecil, dan menengah di Kabupaten Cianjur. Kenaikan harga bahan baku impor menjadi beban baru bagi pelaku UMKM yang selama ini mengandalkan bahan produksi dari luar negeri. Kondisi ini membuat biaya operasional membengkak, sementara harga jual sulit dinaikkan karena daya beli masyarakat masih terbatas.

Salah satu sektor yang paling terdampak adalah industri kerajinan joran pancing di Kampung Pasirgombong, RT 01/RW 04, Desa Mekarwangi, Kecamatan Haurwangi. Para pengrajin di sentra produksi ini mengaku harga bahan utama naik signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Fluktuasi mata uang menjadi penyebab utama karena sebagian besar komponen produksi masih harus diimpor.

Baca juga :  Rupiah Melemah ke Level Rekor Rp 17.600 per Dolar AS, Inflasi dan Biaya Produksi Terancam Naik

Pendi Supendi, salah satu pengrajin joran pancing, menjelaskan bahwa bahan seperti serat fiber, cairan kimia perekat, plastik, hingga komponen pendukung lain mengalami lonjakan harga. Kenaikan ini terjadi beruntun dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Ia menyebut proses pembuatan joran membutuhkan ketelitian tinggi, mulai dari serat fiber mentah hingga menjadi produk jadi yang siap digunakan pemancing.

Tahapan produksi yang panjang membuat biaya tenaga kerja dan waktu produksi juga ikut meningkat. Setiap batang joran harus melalui proses pelapisan, pengeringan, hingga finishing agar memiliki kekuatan dan kelenturan yang sesuai standar. Dengan harga bahan baku yang terus naik, margin keuntungan yang diterima pengrajin semakin menyusut.

Baca juga :  Nia Kurnia Sari Korban Pencabulan, Pemerkosaan, dan Pembunuhan oleh Indra Septiarman

Meskipun menghadapi tekanan biaya, produk joran buatan Cianjur tetap dipasarkan secara luas. Penjualan dilakukan melalui platform daring maupun langsung ke berbagai daerah di Indonesia. Sebagian pengrajin bahkan telah menembus pasar ekspor. Namun, tingginya biaya produksi membuat keuntungan bersih yang diterima semakin kecil dibanding periode sebelumnya.

Pendi mengaku tetap mempertahankan usahanya karena menjadi tumpuan hidup keluarga dan para pekerja yang menggantungkan upah dari industri rumahan ini. Ia bersyukur produksi masih bisa berjalan, karyawan masih bisa dibayar, dan kewajiban usaha masih terpenuhi. Harapannya, harga bahan baku dapat kembali stabil agar usaha bisa bernapas lebih lega.

Baca juga :  Edelweiss Running Festival 2026 Targetkan Ribuan Pelari, Usung Misi Sehat & Bangkitkan UMKM Cianjur

Kepala Desa Mekarwangi, Cecep Surahman, mengatakan keragaman UMKM di desanya cukup luas. Selain pengrajin joran, ada usaha makanan dan minuman, konveksi, hingga berbagai usaha rumahan lain yang juga merasakan dampak kenaikan biaya produksi. Meski begitu, para pelaku usaha belum memilih berhenti karena masih memiliki optimisme terhadap pemulihan ekonomi.

Menurut Cecep, semangat bertahan muncul bukan karena keuntungan besar, melainkan karena adanya harapan harga bahan baku bisa kembali normal. Pelaku UMKM di desanya memilih bertahan dan menyesuaikan strategi agar roda usaha tetap berputar. Mereka berharap ada kebijakan dari pemerintah yang bisa meredam gejolak harga dan menjaga stabilitas pasokan bahan baku.

Pemerintah daerah dan pusat diharapkan segera merumuskan langkah konkret untuk melindungi UMKM dari guncangan eksternal seperti pelemahan rupiah. Stabilitas harga bahan baku dinilai penting agar sektor UMKM, yang menjadi penopang ekonomi di tingkat desa, tidak kehilangan daya saing. Keberlangsungan usaha kecil di Cianjur sangat bergantung pada kemampuan menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan pendapatan yang masuk.

Baca juga :  BI Ungkap Penyebab Rupiah Terus Melemah terhadap Dolar AS Saat Libur Idul Adha
Facebook Comments Box
error: Content is protected !!