Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Stok Darah PMI Cianjur Tinggal 20 Kantong, Hari Donor Darah Sedunia Jadi Alarm Krisis Kemanusiaan

56
×

Stok Darah PMI Cianjur Tinggal 20 Kantong, Hari Donor Darah Sedunia Jadi Alarm Krisis Kemanusiaan

Sebarkan artikel ini

Dpnews Indonesia || Cianjur – Peringatan Hari Donor Darah Sedunia tahun ini menjadi pengingat pahit bagi PMI Kabupaten Cianjur. Di tengah semangat gotong royong yang digaungkan, lembaga kemanusiaan itu justru membuka fakta memprihatinkan: persediaan darah di gudang PMI kini hanya tersisa 20 kantong, jauh di bawah ambang batas aman.

Kondisi itu disampaikan langsung saat rangkaian kegiatan donor darah digelar di halaman kantor PMI, Jalan Raya Dr Muwardi, Minggu pagi. Acara dibuka Bupati Cianjur dr Muhamad Wahyu Ferdian bersama unsur Forkopimda dan kepala OPD. Kehadiran para pejabat daerah bukan hanya sebagai simbol dukungan, tetapi juga sebagai seruan agar donor darah menjadi kebiasaan rutin warga.

Baca juga :  Monev SPPG Sukaluyu Ungkap Celah Infrastruktur dan Sanitasi, Camat Beri Deadline Satu Bulan

Donor darah adalah wujud nyata kepedulian dan semangat gotong royong. Setiap tetes yang disumbangkan berarti nyawa bagi orang lain,” kata Bupati Wahyu di hadapan peserta. Ia berharap generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, menjadikan donor darah sebagai gaya hidup, bukan hanya saat ada imbauan darurat.

Harapan itu muncul karena realita di lapangan jauh dari ideal. Ketua PMI Kabupaten Cianjur Ahmad Fikri membeberkan data periode 6 sampai 13 Juni 2026. Selama sepekan PMI membuka layanan di berbagai titik, dari Cipanas dan Pacet di utara hingga Kadupandak di selatan.

Dari 3.013 warga yang datang mendaftar sebagai calon pendonor, hanya 163 orang yang dinyatakan memenuhi syarat kesehatan. Rata-rata setiap titik kegiatan hanya menghasilkan sekitar 150 kantong darah, angka yang belum mampu menutup kebutuhan harian.

Baca juga :  Prabowo Instruksikan Purbaya Ganti Pimpinan Bea Cukai Jika Tak Mampu Kerja

Ahmad Fikri menjelaskan, standar aman persediaan darah di PMI Cianjur minimal 100 kantong agar bisa melayani kasus mendesak. Namun dalam dua pekan terakhir, stok terus merosot dan kini hanya tersisa 20 kantong. Padahal kebutuhan harian minimal mencapai 30 kantong.

Situasi paling mengkhawatirkan menimpa pasien talasemia. Mereka harus menjalani transfusi rutin setiap bulan agar bisa bertahan hidup. Jika pasokan darah tidak segera terpenuhi, nyawa mereka berada dalam risiko nyata.

Untuk mengatasi krisis, PMI Cianjur terpaksa meminta bantuan jaringan PMI di Bogor dan Jakarta. Kerja sama lintas daerah ini menjadi penyelamat sementara bagi pasien dalam kondisi kritis yang tidak bisa menunggu.

Baca juga :  Antonio Conte Diprediksi Tinggalkan Napoli, Dikabarkan Menuju Timnas Italia

Di sela kegiatan, Ahmad Fikri juga meluruskan kesalahpahaman yang sering muncul di masyarakat. Banyak warga bertanya mengapa darah yang diperoleh cuma-cuma dari pendonor kemudian dikenakan biaya saat digunakan untuk pengobatan.

Ini bukan biaya pembelian darah. Ini biaya pengganti proses pengolahan,” tegasnya. Menurut Ahmad, darah tidak bisa langsung dipakai. Prosesnya meliputi pemeriksaan laboratorium, skrining penyakit menular, sterilisasi, hingga penyimpanan di peralatan khusus yang memerlukan biaya operasional tinggi.

Ke depan, PMI Cianjur akan memperluas sosialisasi hingga ke sekolah menengah dan lingkungan masyarakat. Tujuannya agar pemahaman tentang manfaat donor, prosedur, dan proses pengelolaan darah menjadi utuh. Dengan begitu, kebutuhan darah di masa mendatang diharapkan bisa dipenuhi secara mandiri tanpa terus bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Baca juga :  Sengketa Lahan HGU Sukaresmi Memanas: Dua Kubu Saling Klaim, Kejanggalan Dokumen Jadi Sorotan
Facebook Comments Box
error: Content is protected !!