Dpnews Indonesia || Jakarta – Virus Hanta atau Hantavirus merupakan kelompok virus yang ditularkan dari hewan pengerat, terutama tikus, kepada manusia. Virus ini dapat menyebabkan penyakit serius seperti Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang memengaruhi ginjal. Meski jarang, infeksi ini berpotensi fatal jika tidak ditangani cepat.
Hantavirus bukanlah organisme yang dapat hidup mandiri. Virus ini hanya bereplikasi di dalam sel inang dan tersebar luas di berbagai belahan dunia, termasuk Amerika, Asia, dan Eropa. Di Indonesia, risiko penularan tetap ada meski kasus jarang dilaporkan, terutama di area dengan populasi tikus liar yang tinggi.
Gejala Awal Infeksi Virus Hanta
Gejala biasanya muncul 1 hingga 8 minggu setelah paparan virus. Tahap awal sering menyerupai flu biasa, sehingga sulit didiagnosis dini. Gejala umum meliputi:
- Demam tinggi disertai menggigil
- Kelelahan ekstrem dan lesu
- Nyeri otot, terutama di punggung, paha, dan pinggul
- Sakit kepala
- Mual, muntah, diare, atau nyeri perut
Pada kasus HPS, gejala dapat berkembang cepat menjadi batuk kering, sesak napas, dan kegagalan pernapasan dalam hitungan hari. Tingkat kematian pada kasus parah dapat mencapai 30-50% di Amerika, sementara lebih rendah pada tipe HFRS di Asia dan Eropa.
Cara Penularan Virus Hanta
Penularan utama bersifat zoonotik, yaitu dari hewan ke manusia, dan tidak menular antarmanusia kecuali pada strain Andes virus (jarang terjadi dan biasanya melalui kontak dekat). Cara penularan meliputi:
- Inhalasi aerosol: Menghirup debu atau partikel udara yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus yang mengering.
- Kontak langsung: Menyentuh permukaan tercemar kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut.
- Gigitan atau cakaran tikus terinfeksi (jarang).
- Kontaminasi makanan/minuman yang terpapar kotoran tikus.
Aktivitas berisiko tinggi meliputi membersihkan gudang, rumah kosong, atau area berkemah yang banyak tikus tanpa perlindungan. Tidak ada bukti penularan melalui hewan peliharaan biasa atau dari manusia ke manusia pada sebagian besar strain.
Pencegahan utama adalah mengendalikan populasi tikus, membersihkan area dengan ventilasi baik dan menggunakan masker serta sarung tangan, serta menutup celah masuk tikus di rumah. Saat ini belum ada vaksin atau pengobatan spesifik; penanganan bersifat suportif di rumah sakit, termasuk oksigen dan perawatan intensif.
Jika mengalami gejala flu disertai sesak napas setelah kontak dengan tikus atau area kotor, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan dan informasikan riwayat paparan. Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan menjadi kunci utama mencegah penularan.











