Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Waspada El Niño 2026: Lebih Panas dan Lebih Ganas, Mengapa Tahun Ini Mengkhawatirkan?

56
×

Waspada El Niño 2026: Lebih Panas dan Lebih Ganas, Mengapa Tahun Ini Mengkhawatirkan?

Sebarkan artikel ini

Dpnews Indonesia || Jakarta – Badan meteorologi dunia dan nasional memantau kemunculan fenomena El Niño yang diprediksi mulai terbentuk pada pertengahan 2026. Kali ini, para ilmuwan mewaspadai potensi kekuatan yang lebih intens dibandingkan peristiwa biasa, yang berpadu dengan tren pemanasan global jangka panjang.

Menurut Climate Prediction Center (CPC) NOAA, kondisi netral ENSO saat ini masih dominan hingga April-Juni 2026, tetapi peluang El Niño muncul pada periode Mei-Juli mencapai 61 persen dan diproyeksikan bertahan hingga akhir tahun. Beberapa model bahkan menunjukkan kemungkinan “super El Niño” dengan pemanasan suhu muka laut di Pasifik ekuatorial melebihi 2 derajat Celsius di atas rata-rata.

Baca juga :  Pemerintah Matangkan Formula Baru UMP 2026, Kenaikan Akan Gunakan Sistem Rentang

Mengapa Tahun Ini Berbeda?

El Niño terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur memanas secara signifikan. Hal ini menggeser pola angin dan pembentukan awan hujan, sehingga curah hujan di wilayah Indonesia dan sebagian Asia Tenggara berkurang drastis. Pada 2026, kekhawatiran muncul karena:

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bahkan menyebut potensi “El Niño Godzilla” — istilah untuk varian super kuat yang pernah terjadi pada 1982, 1997, dan 2015 dengan dampak kekeringan parah.

Antisipasi yang Diperlukan

BMKG dan lembaga terkait terus memantau perkembangan. Masyarakat diimbau melakukan penghematan air, persiapan irigasi cadangan, serta kewaspadaan terhadap kebakaran. Sektor pertanian dan ketahanan pangan menjadi prioritas utama menghadapi musim kemarau yang lebih ganas.

Baca juga :  Ivoni Munir, S. Farm., Apt Ketua DPRD Kabupaten Solok Tambah Bantuan Alat Berat untuk Percepatan Pemulihan Pascabencana

Fenomena El Niño bersifat alami, namun dampaknya semakin diperburuk oleh perubahan iklim antropogenik. Para ahli menekankan pentingnya adaptasi jangka pendek sekaligus mitigasi emisi gas rumah kaca jangka panjang untuk mengurangi risiko di masa mendatang.

Perkembangan terbaru akan terus dipantau seiring mendekatnya musim kemarau 2026.

Baca juga :  Kontroversi Lelang Mesin Cuci Darah RSUD Kota Bekasi
Facebook Comments Box
error: Content is protected !!