Dpnews Indonesia || Cianjur – Menghadapi ancaman musim kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino, Perum Bulog Kantor Cabang Cianjur menyiapkan langkah antisipasi. Tujuannya jelas: menjaga ketahanan pangan dan menahan gejolak harga beras di wilayah Cianjur dan Sukabumi.
Kepala Perum Bulog Cabang Cianjur, Muhammad Azwar Fuad, menyebut ada tiga strategi utama yang dijalankan. Ketiga strategi itu adalah penguatan stok beras, optimalisasi penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP, serta percepatan penyaluran bantuan pangan bagi warga yang membutuhkan.
Langkah pertama difokuskan pada penguatan stok. Bulog terus menggenjot penyerapan gabah dari petani lokal. Azwar menyampaikan bahwa hingga Senin, 6 Juli 2025, penyerapan gabah bahkan sudah melampaui target.
Alhamdulillah hingga saat ini kami masih terus menyerap gabah petani. Secara target, penyerapan sudah mencapai 130 persen dari target yang ditetapkan. Namun penyerapan tetap dilakukan untuk memperkuat stok menghadapi kemungkinan kemarau panjang,” ujarnya.
Hasil dari penguatan itu kini terlihat di gudang. Saat ini stok beras yang tersimpan mencapai lebih dari 30 ribu ton. Jumlah tersebut diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Cianjur dan Sukabumi selama kurang lebih empat bulan ke depan.
Dengan cadangan sebanyak itu, Azwar memastikan masyarakat tidak perlu cemas jika produksi padi nanti terganggu. Kalau nanti terjadi kekeringan sehingga panen berkurang atau gagal panen, kami sudah memiliki cadangan yang cukup. Masyarakat Cianjur dan Sukabumi tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras,” katanya.
Strategi kedua adalah mengoptimalkan penyaluran beras SPHP. Beras jenis ini sengaja dijual di bawah harga pasar. Tujuannya untuk menjadi penyeimbang agar harga beras di pasaran tidak melonjak saat pasokan mulai menipis.
Menurut Azwar, SPHP merupakan instrumen penting pemerintah dalam menjaga stabilitas harga. Ia juga menekankan bahwa kualitas beras SPHP yang disalurkan berasal langsung dari hasil panen petani Cianjur dan Sukabumi, sehingga mutu dan rasanya tetap terjaga.
Strategi ketiga adalah melanjutkan program bantuan pangan nasional. Program ini menyasar keluarga penerima manfaat atau KPM. Berdasarkan hasil rapat koordinasi pemerintah pusat, bantuan akan kembali disalurkan selama tiga bulan di tahun 2026.
Cakupan wilayah kerja Bulog Cianjur cukup luas. Bantuan pangan diperkirakan akan menyentuh sekitar 400 ribu KPM yang tersebar di Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi, dan Kota Sukabumi. Setiap keluarga akan menerima 10 kilogram beras setiap bulan.
Dengan bantuan pangan ini masyarakat berpenghasilan rendah tidak perlu membeli beras di pasaran sehingga permintaan dapat ditekan dan harga tetap stabil,” jelas Azwar.
Terkait harga di tingkat petani, Bulog tetap berpatokan pada Harga Pembelian Pemerintah sebesar Rp 6.500 per kilogram. Namun jika harga di lapangan lebih tinggi, petani dipersilakan menjual ke pasar. “HPP Rp 6.500 merupakan harga jaminan pemerintah. Kalau di lapangan harganya mencapai Rp 7.000 hingga Rp 7.200 per kilogram, tentu petani lebih diuntungkan jika menjual ke pasar, pungkasnya.











