Dpnews Indonesia || Selat Hormuz mengalami ketegangan tinggi pada 24 Maret 2026 akibat konflik berkelanjutan antara Iran dan Amerika Serikat beserta sekutunya.
Jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab ini mengalami penurunan lalu lintas kapal secara drastis sejak akhir Februari 2026, ketika operasi militer AS-Israel terhadap Iran dimulai.
Data pemantauan maritim menunjukkan hanya segelintir kapal yang melintas setiap harinya, jauh di bawah rata-rata normal sekitar 100-140 kapal per hari sebelum konflik.
Iran telah menyatakan Selat Hormuz “tertutup” sejak awal Maret dan menerapkan kontrol ketat, termasuk ancaman serangan terhadap kapal yang mencoba melintas tanpa izin.
Beberapa laporan menyebut Iran sedang mengembangkan sistem vetting untuk kapal, di mana hanya kapal tertentu—terutama yang terkait Iran—yang diizinkan lewat melalui koridor aman.
Sebagian besar kapal tanker minyak internasional mengalami penahanan di kedua sisi selat karena risiko keamanan, dengan ratusan kapal mengantre atau menghindari rute tersebut.
Presiden AS Donald Trump telah memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali selat secara penuh, dengan batas waktu 48 jam yang disebutkan pada akhir pekan lalu, disertai ancaman serangan terhadap fasilitas pembangkit listrik Iran jika tidak dipenuhi.
Namun, ada indikasi perpanjangan atau penundaan deadline tersebut. Iran merespons dengan pernyataan siap menutup total selat dan bahkan menargetkan kepentingan AS di kawasan jika terjadi eskalasi lebih lanjut.
AS mengklaim telah melakukan serangan terhadap situs rudal pantai dan infrastruktur Iran, yang menurut Central Command AS telah mengurangi kemampuan Teheran mengancam lalu lintas di selat. Meski demikian, lalu lintas komersial tetap sangat terbatas, dengan sebagian besar transit yang tercatat melibatkan kapal Iran sendiri.
Situasi ini telah mendorong lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global, mengingat sekitar 20-30% perdagangan minyak dunia biasanya melewati Selat Hormuz. Pemantauan maritim terus dilakukan, sementara upaya diplomatik dan militer untuk mengamankan jalur tersebut masih berlangsung tanpa resolusi jelas hingga saat ini.











