Dpnews Indonesia || Kopenhagen – Dunia akademik internasional diguncang dugaan skandal pemalsuan riset yang melibatkan sejumlah oknum peneliti asal Indonesia pada ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) ke-14 yang berlangsung di Kopenhagen, Denmark, pada 17–21 Mei 2026.
Menurut laporan yang beredar luas di kalangan akademisi, sekelompok peserta Indonesia diduga menyajikan hasil penelitian palsu yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Beberapa presentasi lisan dan poster disebut menampilkan data yang tidak valid, referensi tidak dapat ditelusuri, serta visualisasi yang diindikasikan hasil rekayasa AI.
Para terduga, di antaranya bernama Prihatini (atau Prihantini), Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti (serta kemungkinan Sahnaz Vivinda Putri), disebut tidak memiliki latar belakang medis yang relevan dengan topik pneumonia dan penyakit pneumokokus. Mereka diduga mengubah identitas atau penampilan untuk menyampaikan beberapa sesi presentasi. Beberapa institusi dan nama penulis yang dicantumkan juga diduga fiktif atau dicatut secara tidak sah.
Motif utama yang diduga adalah memperoleh travel grant serta pengakuan ilmiah untuk mendukung pengajuan dana riset lebih lanjut. Dugaan ini pertama kali diungkap oleh dosen dan peneliti Universitas Udayana, Ida Bagus Mandhara Brasika, dan menyebar cepat melalui media sosial.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak penyelenggara ISPPD maupun universitas terkait di Indonesia. Komunitas akademik Indonesia mengecam keras perbuatan tersebut karena berpotensi merusak reputasi peneliti Indonesia yang kredibel di kancah global.
Kasus ini masih dalam tahap dugaan dan diharapkan segera ditindaklanjuti melalui investigasi resmi oleh lembaga terkait di Indonesia dan Denmark untuk menjaga integritas penelitian ilmiah.











