Dpnews Indonesia || Iran mengumumkan penangkapan 178 individu yang diduga sebagai mata-mata atau agen yang bekerja untuk Amerika Serikat dan Israel sejak dimulainya konflik bersenjata terkini.
Pengumuman ini disampaikan oleh Organisasi Intelijen Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) pada Kamis (19 Maret 2026), sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita negara Mehr dan berbagai sumber media Iran lainnya.
Menurut pernyataan IRGC, para tersangka tersebut dituduh melakukan pengkhianatan dengan menjalin kontak dengan agen intelijen AS dan Israel. Mereka diduga mengirimkan materi visual berupa gambar dan koordinat lokasi sensitif, termasuk pusat Bulan Sabit Merah Iran serta pos pemeriksaan militer dan keamanan, untuk memfasilitasi serangan oleh pihak musuh.
IRGC menyatakan bahwa penangkapan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk membongkar jaringan spionase asing dan melindungi keamanan nasional di tengah situasi perang.
Sebelumnya, Kementerian Intelijen Iran juga melaporkan penangkapan terpisah terhadap 97 tentara bayaran yang diduga direkrut Israel serta 69 individu terkait jaringan AS-Israel dalam operasi nasional.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Amerika Serikat maupun Israel terkait klaim tersebut. Penangkapan massal semacam ini sering kali disampaikan oleh otoritas Iran sebagai bagian dari narasi kontra-intelijen selama periode konflik.
Pihak berwenang Iran menekankan bahwa sejumlah warga asing turut ditahan, disertai penyitaan senjata, perangkat komunikasi khusus, alat pelacak lokasi, dan mata uang asing dari para tersangka.
Kasus ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang sedang berlangsung antara Iran dengan kekuatan AS dan Israel.











