Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

JOTR Internasional Angkat Nama Cianjur, Namun Dinilai Sisakan Persoalan Koordinasi dengan Masyarakat Lokal

36
×

JOTR Internasional Angkat Nama Cianjur, Namun Dinilai Sisakan Persoalan Koordinasi dengan Masyarakat Lokal

Sebarkan artikel ini

Dpnews Indonesia || Cianjur – Cianjur kembali jadi pusat perhatian dunia olahraga. Taman Wisata Cibodas pekan ini dipaksa menjadi arena Jakarta Open Trail Run atau JOTR, ajang lari lintas alam berskala internasional yang mengklaim menyatukan pelari dari sembilan negara Asia Tenggara. Di balik gemuruh semangat sportivitas, event ini justru meninggalkan ganjalan di hati warga setempat yang merasa hanya dijadikan panggung tanpa diajak bicara.

Ribuan pelari turun di lima kategori di antara longtrailer, dengan trek 75 kilometer dan 21 kilometer yang menantang tanjakan dan medan licin Cibodas. Bendera Brunei, Vietnam, Kamboja, dan negara Asia Tenggara lain berkibar di garis start. Panitia menyebut ini bagian dari rangkaian JawaTR, sebuah kejuaraan regional yang ingin menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah tetap. Namun kebanggaan itu langsung retak begitu menyentuh lapisan paling bawah.

Baca juga :  Arisan Paket Tidak Sesuai Data Setoran di Desa Kertarahyu

H. Sopyan dari Pokdarwis Cibodas tidak menutup-nutupi kekecewaannya. Ia menyebut panitia JOTR minim koordinasi dengan desa dan pengelola wisata. Kurang koordinasi dengan kami, ujarnya tegas. Bagi warga, Cibodas bukan sekadar spot foto. Itu rumah, sumber nafkah, dan ruang hidup yang seharusnya dihargai sebelum diinjak ribuan kaki pelari dan tim pendukung.

Tudingan itu langsung dibantah ketua penyelenggara yang akrab disapa Haris Lahabu Ia berdalih jika koordinasi benar-benar buruk, acara sebesar ini tidak akan berjalan. Kalau kurang koordinasi ini tidak akan berjalan dengan lancar, katanya. Dalih itu terdengar datar di telinga warga yang merasa hanya diberitahu setelah semuanya siap, bukan diajak merancang sejak awal.

Di tengah tarik ulur itu, nama militer ikut mewarnai lintasan. Dandim Cianjur Letkol Inf. Bistok Berry Simarmata turun langsung di trek 21K. Start pukul 05.00 WIB dengan batas waktu 10 jam, ia menyelesaikannya dalam 6 jam lebih. Selesai lomba, ia memuji event ini sangat baik karena mengangkat nama Cianjur ke panggung internasional. Tapi ia juga menyinggung soal perizinan. Tadi ada sedikit kericuhan artinya kan setiap kegiatan pasti tentunya ada, nanti kita perbaiki di event selanjutnya, ucapnya.

Bagi Dandim, JOTR bukan sekadar lomba. Ia berharap event seperti ini jadi pemantik semangat anak-anak Cianjur untuk berolahraga, bukan hanya lari. Melalui event seperti ini masyarakat Cianjur juga semakin termotivasi, katanya. Ia bahkan mendorong agar ke depan Cianjur bukan hanya numpang nama, tapi benar-benar jadi tuan rumah utama dengan peserta mancanegara yang lebih banyak dan lebih meriah.

Baca juga :  Diduga Tergiur Bujuk Rayu Pemroses Ziad, Riyadh, dan Kodir, Hanya Derita Yang Didapat Pekerja

Dari sisi lain peserta, realita di lapangan tidak seindah spanduk. Windu, istri salah satu pelari asal Pangandaran, menyebut biaya pendaftaran untuk kategori 21K mencapai sekitar Rp1 juta. Itu belum termasuk penginapan dan makan minum. Angka itu cukup besar untuk ukuran pelari amatir, dan menimbulkan pertanyaan siapa sebenarnya yang diuntungkan dari event internasional ini, warga lokal atau segelintir penyelenggara.

Panitia menekankan sifat olahraga yang inklusif dan tidak boleh dicampuri politik. Olahraga itu berkembang, tidak berhubungan dengan politik,” ujar salah satu pengurus. Pernyataan itu benar, tapi inklusif bukan berarti menabrak. Inklusif artinya mengajak, bukan memerintah. Jika desa, Pokdarwis, dan UMKM lokal hanya jadi penonton, maka semangat inklusif itu baru slogan di atas kertas.

JOTR sudah selesai, peserta luar negeri sudah bersiap pulang ke negaranya masing-masing. Tinggal PR besar untuk Cianjur: berbenah. Jika ingin bermimpi lebih besar, lebih mendunia, dan lebih banyak peserta, maka koordinasi tidak boleh lagi jadi korban. Olahraga boleh keras di lintasan, tapi tata kelolanya harus lebih dewasa. Jika tidak, Cibodas hanya akan diingat sebagai tempat yang pernah dipakai, bukan tempat yang pernah dilibatkan.

Baca juga :  PLT Bupati Bekasi Dukung Penuh Posko Mudik Jurpala–KOSMI Untuk Pemudik
Facebook Comments Box
error: Content is protected !!