Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Kemarau Panjang Picu Gagal Panen, Bulog Cianjur Masih Kekurangan 189 Ton Jagung

76
×

Kemarau Panjang Picu Gagal Panen, Bulog Cianjur Masih Kekurangan 189 Ton Jagung

Sebarkan artikel ini

Dpnews Indonesia || Cianjur – Kemarau panjang berdampak terhadap produksi jagung di Kabupaten Cianjur. Sejumlah petani jagung hibrida dilaporkan mengalami gagal panen, sehingga pasokan yang masuk ke Perum Bulog Cabang Cianjur belum mampu memenuhi target penyerapan tahun 2026.

Di tengah menurunnya produksi lokal, Bulog Cianjur masih berupaya memenuhi target penyerapan jagung sebanyak 945 ton. Hingga Sabtu (7/11/2026), realisasi penyerapan baru mencapai sekitar 80 persen atau masih menyisakan kekurangan sekitar 189 ton.

Baca juga :  Bulog Cianjur Siapkan Tiga Strategi Hadapi Ancaman El Nino, Stok Beras Aman Lebih dari 30 Ribu Ton

Kepala Cabang Perum Bulog Cianjur, Muhammad Azwar Fuad, mengatakan gagal panen akibat kemarau panjang menjadi salah satu penyebab belum tercapainya target tersebut.

“Kita masih kekurangan stok jagung. Kemarau panjang membuat banyak petani jagung hibrida gagal panen, sehingga penyetoran ke Bulog belum mencapai target. Solusinya, kita datangkan pasokan dari Gorontalo Utara, pusat jagung hibrida dan jagung pipih. Diharapkan masuk pada minggu pertama November,” kata Azwar kepada wartawan, Sabtu (7/11/2026).

Ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah menjadi perhatian, mengingat kebutuhan jagung sebagai bahan baku pakan ternak harus tetap terpenuhi. Namun, kepastian volume dan jadwal kedatangan pasokan tambahan masih menjadi hal penting untuk memastikan kekurangan stok dapat segera diatasi.

Azwar menjelaskan, penyerapan jagung merupakan bagian dari penugasan pemerintah, selain program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras. Jagung SPHP disalurkan kepada asosiasi atau koperasi peternak ayam petelur yang telah terdaftar di Badan Pangan Nasional (Bapanas).

Baca juga :  Harkitnas ke-117: Bangkit untuk Indonesia Emas

“Untuk jagung kita juga punya penugasan, selain SPHP beras. Jagung SPHP disalurkan kepada asosiasi atau koperasi peternak ayam petelur yang sudah terdaftar di Bapanas. Di Cianjur ada dua koperasi, yaitu Bina Satwa dan Pinsar Petelur Nasional,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi menghadapi musim paceklik, Bulog juga menyiapkan skema penyerapan dan penyimpanan jagung melalui mekanisme Resi Gudang. Dalam skema tersebut, jagung petani diserap saat panen melimpah untuk disimpan sebagai cadangan dan disalurkan kembali kepada peternak ketika produksi menurun.

Melalui program tersebut, harga jagung bagi peternak diperkirakan sekitar Rp5.500 per kilogram. Harga ini lebih rendah dibandingkan harga pasar yang sempat mencapai Rp7.800 per kilogram.

Baca juga :  Era Digital Pilkades Cianjur 2026: Pendaftaran Online dan Antisipasi E-Voting

Selisih sekitar Rp2.300 per kilogram diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi peternak ayam petelur. Meski demikian, manfaat program sangat bergantung pada ketersediaan stok, kelancaran distribusi, serta kepastian harga bagi penerima.

Persoalan yang perlu menjadi perhatian bukan hanya pemenuhan target penyerapan, tetapi juga perlindungan terhadap petani saat menghadapi risiko gagal panen. Sebab, mekanisme penyimpanan cadangan tidak akan berjalan optimal apabila volume jagung yang diserap sejak musim panen terbatas.

Di sisi lain, peternak membutuhkan kepastian pasokan jagung secara berkelanjutan, bukan sekadar kebijakan harga yang lebih murah.

Dengan kondisi tersebut, keberhasilan program Bulog Cianjur akan diuji melalui kemampuannya menjaga ketersediaan jagung dari tingkat petani hingga peternak. Target 945 ton bukan sekadar angka penyerapan, melainkan juga menjadi tolok ukur efektivitas intervensi pemerintah dalam menjaga produksi pertanian dan memenuhi kebutuhan bahan baku pakan ternak.

Baca juga :  Pemdes Tanjung Mekar Angkat Bicara Prihal Sampah Pinggir Jalan
Facebook Comments Box
error: Content is protected !!