Dpnews Indonesia || Bogor – Isak tangis haru pecah saat Sumarni binti Khoerudin Katma, Pekerja Migran Indonesia (PMI) kelahiran Sukabumi yang kini menetap di Desa Waru, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, yang sempat dikabarkan hilang kontak di Libya, akhirnya tiba di kampung halaman pada Rabu (18/02/2026).
Namun, kepulangan sosok pahlawan devisa ini menyisakan potret kelam di balik gemerlap janji kesejahteraan di luar negeri.
Sumarni berangkat mengadu nasib sejak tahun 2022. Alih-alih mendapatkan pekerjaan yang layak, ia justru diduga menjadi korban permainan agensi nakal. Berdasarkan keterangan keluarga, Sumarni terus “dilempar” dari satu negara ke negara lain di kawasan Timur Tengah, hingga akhirnya terdampar di Libya.
- Kondisi Fisik: Tubuh terlihat kurus akibat kurangnya asupan makanan yang layak selama bekerja.
- Tanda Kekerasan: Terdapat luka lebam di area wajah yang diduga kuat akibat tindak kekerasan dari pihak majikan.
- Kerugian Materiil: Sumarni terpaksa pulang dengan “tangan hampa” tanpa membawa hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun.
Kepulangan ini tidak lepas dari upaya gigih sang suami, Dirma Hendri. Selama masa hilang kontak, Dirma tak kenal lelah melaporkan kasus ini ke berbagai instansi pemerintah terkait.
Kini, meski sang istri telah berada di pelukan, Dirma hanya bisa mengelus dada melihat kondisi trauma yang dialami belahan jiwanya.
”Kami hanya ingin keadilan. Istri saya pulang dalam keadaan hancur, sementara mereka yang mengirimnya seolah tidak tersentuh,” ujar pihak keluarga dengan nada getir.
Kasus Sumarni menjadi pengingat pahit bahwa modus perekrutan tenaga kerja ilegal masih menjadi ancaman nyata. Praktik Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang menjeratnya menuntut perhatian serius dari pemerintah.
- Rehabilitasi: Akankah ada kepedulian dari pemerintah untuk memulihkan kondisi kesehatan dan psikologis Sumarni?
- Penegakan Hukum: Akankah aparat bertindak tegas menangkap sindikat dan agensi yang memberangkatkan Sumarni secara non-prosedural?
Tragedi Sumarni bukan sekadar angka dalam statistik PMI, melainkan luka nyata yang menuntut keadilan agar tidak ada lagi pahlawan devisa yang pulang dalam kondisi serupa.











