Scroll untuk baca artikel
BeritaEkonomi

KFC Indonesia Catat Rugi Rp 369 Miliar Sepanjang 2025, Utang Membengkak dan Gerai Terus Berkurang

26
×

KFC Indonesia Catat Rugi Rp 369 Miliar Sepanjang 2025, Utang Membengkak dan Gerai Terus Berkurang

Sebarkan artikel ini

Dpnews Indonesia || Jakarta – PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pengelola jaringan restoran cepat saji KFC di Indonesia, membukukan kerugian bersih sebesar Rp 369 miliar sepanjang tahun 2025. Angka ini menunjukkan perbaikan dibandingkan rugi Rp798 miliar pada tahun sebelumnya, meski kinerja operasional perusahaan masih berada di zona merah.

Menurut laporan keuangan konsolidasian 2025, rugi usaha perseroan tercatat sebesar Rp311 miliar. Pendapatan perusahaan relatif stagnan di kisaran Rp 4,88 triliun. Di sisi neraca, total liabilitas atau utang FAST mengalami peningkatan signifikan, mencerminkan tekanan likuiditas yang masih berlanjut.

Baca juga :  Alat Peraga Kampanye (APK) Pelaksanannya Banyak Yang Menabrak Aturan

Sepanjang 2025, perusahaan melakukan efisiensi dengan menutup puluhan gerai. Data semester I-2025 menunjukkan penutupan 19 gerai dan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 400 karyawan, sebagai upaya menyesuaikan biaya operasional dengan kondisi penjualan yang belum pulih sepenuhnya. Jumlah gerai operasional terus menyusut, dari 715 gerai akhir 2024 menjadi sekitar 698 gerai per Juni 2025, dan tren tersebut berlanjut hingga akhir tahun.

Manajemen FAST menyatakan penutupan gerai sebagian besar disebabkan oleh kontrak sewa yang berakhir serta kinerja outlet yang belum menunjukkan pemulihan signifikan pasca-pandemi. Selain itu, faktor eksternal seperti kampanye boikot sejak akhir 2023 dan tekanan daya beli masyarakat turut memengaruhi kinerja penjualan.

Baca juga :  Ribuan PPPK Terancam PHK Massal Dampak Kebijakan Presiden Prabowo

Meski demikian, perusahaan tetap menjalankan strategi refinancing utang untuk menjaga kelangsungan operasi dan berencana melakukan relokasi gerai di lokasi yang lebih potensial. Hingga akhir 2025, FAST masih menghadapi tantangan berat di tengah persaingan ketat industri fast food dan pemulihan konsumsi yang lambat.

Analis pasar menilai kondisi ini menjadi sinyal perubahan struktural di sektor restoran cepat saji, di mana efisiensi operasional dan inovasi menu menjadi kunci bertahan di tengah dinamika pasar yang semakin kompetitif.

Baca juga :  Sosialisasi Dampak Buruk Penyalahgunaan Narkoba oleh Polres Metro Bekasi dan Polsek Cikarang Utara
Facebook Comments Box
error: Content is protected !!