Dpnews Indonesia || Bandung Barat – Pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 1 Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, memicu kritik tajam dari para siswa dan orang tua. Distribusi jatah makan untuk tiga hari yang dilakukan pada Kamis (26/2/2026) dinilai tidak praktis dan justru membebani siswa secara logistik maupun finansial.
Sejumlah siswa mengeluhkan mekanisme pembagian paket MBG yang diberikan dalam bentuk satuan tanpa wadah atau kantong pengemas. Padahal, menu yang dibagikan untuk jatah tiga hari tersebut cukup beragam, terdiri dari:
- 3 bungkus kue/snack
- 2 butir telur
- Satu paket buah-buahan (1 pisang, 1 apel, dan 5 butir kelengkeng)
- Dua kotak susu mini
Kondisi ini memaksa para siswa membawa tumpukan makanan tersebut dengan tangan kosong, sehingga mereka kesulitan untuk membawanya pulang ke rumah masing-masing.
“Kami kerepotan bawanya karena banyak sekali itemnya tapi tidak ada kantongnya,” ujar salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya.
Yang paling memprihatinkan, muncul pengakuan dari para siswa bahwa pihak penjaga sekolah juga penyalur meminta bayaran sebesar Rp.2.000 jika siswa ingin menggunakan kantong plastik. Alasan yang diberikan adalah kantong tersebut akan digunakan untuk pengadaan kantong jatah MBG pada periode berikutnya.
Hal ini memicu reaksi negatif dari publik. Masyarakat mulai mempertanyakan transparansi anggaran program tersebut, terutama mengenai rincian biaya per porsi.
Keluhan mengenai biaya kantong plastik yang mencapai Rp2.000 dianggap tidak masuk akal dan tidak tertutupi oleh alokasi anggaran yang seharusnya sudah termasuk biaya pengemasan atau distribusi.
Situasi ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai standar operasional prosedur (SOP) pembagian makanan bergizi di sekolah tersebut. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi atau klarifikasi dari pihak pengelola MBG maupun pihak sekolah SMAN 1 Cipeundeuy terkait keluhan siswa dan pungutan biaya kantong plastik tersebut.
Publik berharap pihak terkait segera memberikan penjelasan agar program yang bertujuan meningkatkan gizi siswa ini tidak justru menjadi beban baru bagi peserta didik.











