Dpnews Indonesia || Timur Tengah kembali dilanda eskalasi militer signifikan sejak akhir Februari 2026. Konflik antara Israel, didukung Amerika Serikat, dengan Iran telah memasuki fase intens selama sekitar 12 hari (hingga awal Maret 2026), memicu kekhawatiran luas atas potensi perang regional yang lebih luas.
Konflik ini bermula pada 28 Februari 2026, ketika Israel dan AS melancarkan serangan udara terkoordinasi ke berbagai target di Iran. Tujuan yang dinyatakan termasuk menargetkan fasilitas kepemimpinan, pasukan keamanan, program rudal balistik, serta situs terkait program nuklir Iran untuk mencegah pengembangan senjata nuklir dan mendorong perubahan rezim. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah petinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, serta menyebabkan korban sipil, termasuk insiden di sebuah sekolah perempuan di Minab yang menewaskan ratusan orang.

Iran membalas dengan gelombang rudal balistik dan drone ke Israel serta pangkalan militer AS di negara-negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Serangan balasan tersebut menyebabkan korban jiwa dan kerusakan di Israel, meskipun sebagian besar dicegat oleh sistem pertahanan seperti Iron Dome. Konflik juga meluas ke Lebanon, dengan Israel menyerang infrastruktur Hezbollah, sementara Iran mengklaim serangan terhadap target di wilayah tersebut.
Hingga 5 Maret 2026, operasi militer gabungan AS-Israel telah menghantam lebih dari 2.000 target, termasuk peluncur rudal, pertahanan udara, dan aset angkatan laut Iran. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan belum ada bukti kerusakan signifikan pada instalasi nuklir utama seperti Natanz atau Bushehr, meskipun beberapa situs terkait penelitian dilaporkan terdampak. Tidak ada laporan penggunaan senjata nuklir dalam konflik ini; eskalasi tetap pada level konvensional dengan rudal dan drone.
Dampak ekonomi global mulai terasa. Harga minyak mentah Brent melonjak tajam akibat kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Hormuz—jalur vital bagi sekitar 20% minyak dunia. Analis memperingatkan potensi lonjakan harga hingga USD 120-150 per barel jika konflik memicu penutupan selat tersebut, yang dapat memicu inflasi global, gangguan rantai pasok, dan tekanan pada ekonomi negara pengimpor seperti Indonesia. Pasar saham mengalami volatilitas, dengan indeks utama turun sementara aset safe haven seperti emas dan dolar AS menguat.
PBB dan sejumlah negara mendesak de-eskalasi serta kembali ke jalur diplomasi. Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi dapat berlangsung beberapa minggu, dengan tujuan mencapai kesepakatan nuklir baru yang lebih ketat. Namun, hingga kini belum ada tanda gencatan senjata, dan risiko perluasan konflik melalui proxy Iran di wilayah tetap tinggi.
Situasi terus berkembang dinamis, dengan pemantauan ketat dari komunitas internasional terhadap potensi dampak kemanusiaan dan stabilitas regional lebih lanjut.











