Dpnews Indonesia || Sukabumi – Nasib memilukan dialami Gopar (46), Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kampung Cibolang, Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi. Ia kini menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Riyadh, Arab Saudi, akibat komplikasi hipertensi dan kondisi pascaoperasi kanker otak.
Di tengah kondisi kesehatannya yang terus menurun, Gopar juga menghadapi kendala administrasi yang disebut mencapai 27.000 Riyal atau sekitar Rp 110 juta. Besarnya sanksi tersebut menjadi salah satu hambatan dalam proses pemulangannya ke Indonesia.
Gopar berangkat ke Arab Saudi sebagai sopir rumahan dengan harapan dapat menghidupi keluarga. Namun, setelah hampir setahun mengalami sakit, kondisinya dilaporkan semakin memprihatinkan. Keluarga juga menyebut terdapat persoalan terkait keterlambatan makan dan pembayaran gaji selama bekerja.
Sang istri, Isoh (44), turut berada di Arab Saudi untuk mendampingi suaminya. Namun, karena harus bekerja merawat lansia dan terbentur aturan serta kesibukan pekerjaan, dalam dua bulan terakhir ia disebut baru sekali menjenguk Gopar.
Menurut informasi keluarga, biaya pengobatan Gopar semestinya ditanggung asuransi melalui dokumen Iqamah yang dimilikinya. Keluarga berharap Gopar dapat segera dipulangkan ke Indonesia agar menjalani pemulihan di tanah air.
Upaya penyelesaian administrasi disebut telah dilakukan melalui komunikasi dengan KBRI Riyadh. Bahkan, muncul opsi pembagian biaya penalti sebesar 50:50 antara pihak majikan dan keluarga. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil karena majikan menyatakan tidak sanggup membayar.
Sementara itu, sponsor lokal bernama Heri yang disebut mengurus keberangkatan Gopar melalui Calling Visa pada 2020 juga dikabarkan tidak lagi dapat dihubungi.
Pendamping dari Tim Relawan SEKBER TPPO RI di Taif, Yusup Saepulloh, mengatakan pihaknya berupaya memberikan pendampingan kepada Gopar. Namun, jarak Taif-Riyadh yang mencapai sekitar 15 jam perjalanan serta biaya perjalanan sekitar 800 Riyal menjadi kendala tersendiri.
“Keinginan keluarga saat ini hanya satu, Gopar bisa segera dipulangkan ke Sukabumi. Kami memohon pemerintah Indonesia turun tangan memfasilitasi proses pemulangan ini sebelum terlambat,” ujar Yusup mewakili keluarga.
Keluarga Gopar di Cisaat kini berharap pemerintah dapat memberikan solusi atas persoalan administrasi dan memfasilitasi kepulangan Gopar ke Indonesia. Mereka khawatir kondisi kesehatan Gopar semakin memburuk jika proses pemulangan tidak segera dilakukan.











