Dpnews Indonesia || Cianjur – Pembukaan program Kementerian 10.000 MCK untuk pesantren resmi digelar di Pesantren Miftahul Huda Al-Musri, Desa Kertajaya, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur. Kegiatan ini menjadi titik awal penyaluran fasilitas sanitasi ke ribuan pesantren di seluruh Indonesia.
Dalam wawancara nya, pak menteri Gus Muhaemin Iskandar atau yang akrab di sapa cak imin ini menegaskan bahwa program ini bukan sekadar pembangunan fisik. Menurutnya, seluruh rangkaian mulai dari literasi keuangan hingga pemberian 10.000 MCK untuk pesantren merupakan bagian integral dari pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan itu, lanjut Gus Muhaemin, memiliki hulu dan hilir yang jelas. Hulunya adalah penyiapan sumber daya manusia melalui capacity building. Hilirnya adalah lahirnya ekosistem yang memberi ruang bagi kemandirian ekonomi, kreativitas, inovasi, dan kesadaran masyarakat untuk aktif menggerakkan ekonomi keluarga dan lingkungan pesantren.
Ia menjelaskan alasan pemerintah memilih pesantren sebagai sasaran utama. Pesantren dinilai sangat strategis karena memiliki komunitas pendukung, lingkungan, dan para santri dalam satu tempat. Dengan begitu, satu kebijakan bisa berdampak luas sekaligus.
Sekali dayung, pesantren bisa berperan mengatasi kemiskinan. Pesantren bisa mengatasi kesehatan. Pesantren bisa menyiapkan SDM yang unggul yang bisa melahirkan kemandirian ekonomi, ujarnya. Karena itu pesantren disebut sebagai jalan cepat memutus mata rantai kemiskinan.
Jalan cepat itu ditempuh melalui tiga jalur, yaitu pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan penciptaan ekosistem ekonomi. Gus Muhaemin menambahkan, pesantren-pesantren memiliki pasar dan sumber daya yang sudah siap digunakan hingga hari ini.
Pada kesempatan yang sama diperkenalkan juga SPTP, yaitu Forum Percepatan Transformasi Pesantren. Orientasi forum ini sejalan dengan agenda besar pemerintah bernama transformasi bangsa.
Jika 40.000 pesantren di Indonesia bisa tertransformasi melalui SPTP, maka pendidikan akan melaju lebih cepat. Dari situ akan lahir SDM unggul untuk menyongsong Indonesia yang optimis. Program SPTP mencakup pelatihan, pendidikan, fasilitas, dan penyediaan sarana.
SPTP dirancang sebagai sarana efektif satu pintu transformasi. Tujuannya mempermudah cara kerja perubahan, khususnya orientasi ekonomi. Semua biaya diarahkan agar bekerja produktif, tidak sekadar bisnis visual. Model ekonomi yang dibangun harus memberdayakan masyarakat dan menciptakan lapangan kerja bagi lapisan paling bawah.
Salah satu penerima manfaat program ini adalah KH Romli, Lc, pimpinan Pondok Pesantren Riyadhul Jannah Jonggol, Bogor. Ia menyampaikan pesantrennya mendapatkan bantuan 10 kamar MCK. Bantuan itu sangat dibutuhkan karena saat ini jumlah santri mencapai 600 orang putra dan putri.
Selain fasilitas MCK, ketersediaan air menjadi tantangan tersendiri. Di wilayah Jonggol, Bogor Timur, musim kemarau panjang membuat banyak titik kekurangan air. KH Romli berharap ke depan program MCK bisa dilengkapi sumur bor artesis. Menurutnya, di daerah tersebut air baru ditemukan pada kedalaman minimal 85 meter. Ia juga menekankan bahwa pesantren adalah lembaga swasta yang mandiri, sehingga kebutuhan dasar seperti air bersih masih menjadi prioritas besar.











