Dpnews Indonesia || Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Senin (2/11/2026), menyentuh level Rp18.155 per dolar AS. Pelemahan ini menandai awal bulan November yang penuh tantangan bagi mata uang Garuda.
Berdasarkan data pasar, posisi tersebut lebih lemah dibandingkan penutupan pekan sebelumnya. Sejumlah analis mencatat bahwa pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga tertekan terhadap dolar AS.
Beberapa faktor menjadi sumber tekanan. Dari sisi global, sentimen risk-off di pasar keuangan serta aksi jual di bursa saham Asia dan AS masih mendominasi. Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan rilis data ekonomi penting, termasuk perdagangan, inflasi, dan cadangan devisa.
Analis memperkirakan rupiah masih akan bergerak dalam rentang konsolidasi di kisaran Rp18.100–Rp18.200 per dolar AS sepanjang pekan ini. Tekanan diperkirakan belum segera mereda hingga ada kejelasan data domestik dan perkembangan sentimen global.
Bank Indonesia diperkirakan tetap waspada menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen yang tersedia.











