Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Upwelling Picu Ribuan Ikan Mati di Jangari Cianjur, Petani Keluhkan Kerugian hingga Ratusan Juta

147
×

Upwelling Picu Ribuan Ikan Mati di Jangari Cianjur, Petani Keluhkan Kerugian hingga Ratusan Juta

Sebarkan artikel ini

Dpnews Indonesia || Cianjur – Musim kemarau kembali memukul pembudidaya ikan di perairan Jangari, Kabupaten Cianjur. Fenomena upwelling yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menyebabkan kematian massal ikan budidaya, terutama ikan mas dan bawal. Ribuan ikan ditemukan mengapung dalam kondisi mati di permukaan kolam.

Salah seorang pembudidaya, Dadan (48), mengatakan ikan mulai mati secara bertahap dari bagian pinggir kolam. Hampir seluruh ikan berukuran konsumsi miliknya tidak terselamatkan.

Baca juga :  Pemerintah Desa Cipayung Gelar Musyawarah Desa (Musdes)

“Yang mati hampir semua. Dari pinggir semua mabok. Yang tersisa paling bibit, masih kecil,” ujar Dadan.

Menurutnya, fenomena tersebut bukan kali pertama terjadi. Setiap musim kemarau, ketika debit air menyusut disertai angin kencang dari arah selatan, kematian ikan akibat upwelling kerap terjadi.

“Kadang-kadang tiap tahun ada satu kali mabok. Kemarau, air kecil, terus angin dari selatan,” katanya.

Secara ilmiah, upwelling merupakan pergerakan massa air dari dasar menuju permukaan yang dapat menyebabkan perubahan suhu dan kadar oksigen secara cepat. Kondisi tersebut membuat ikan mengalami stres hingga berujung pada kematian massal.

Dampaknya, petani mengalami kerugian cukup besar. Pembudidaya skala kecil diperkirakan kehilangan sekitar Rp10 juta, sedangkan kerugian pembudidaya skala besar dapat mencapai ratusan juta rupiah. Kerugian meliputi biaya bibit, pakan, hingga tenaga kerja.

Di tengah kondisi tersebut, petani juga menghadapi harga pakan yang terus meningkat, sementara harga jual ikan tidak stabil. Dadan menyebut harga pakan yang sebelumnya di bawah Rp 10 ribu per kilogram kini telah menembus Rp 12 ribu, sedangkan harga ikan di pasaran sekitar Rp 23 ribu per kilogram.

Baca juga :  BMKG dan Bappenas Bahas Kesiapsiagaan Hadapi Musim Kemarau 2026 yang Diprediksi Lebih Kering

“Ikan mati kena cuaca, pas panen harga jatuh, tapi pakan malah naik terus,” keluhnya.

Petani berharap pemerintah memberikan perhatian dan pendampingan, termasuk penyuluhan untuk mengantisipasi upwelling yang cenderung muncul pada periode tertentu setiap tahun.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Peternakan, Kesehatan Hewan, dan Perikanan Kabupaten Cianjur, Yusuf Tatang Johari atau Yustang, membenarkan kematian ikan di Jangari disebabkan fenomena upwelling.

“Masalahnya bukan ada bubuk atau apa. Ini upwelling yang diakibatkan angin sehingga arus bawah naik,” jelas Yustang.

Ia mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi dan mengimbau pembudidaya meningkatkan kewaspadaan, termasuk menghadapi potensi dampak El Nino.

Baca juga :  KPK Perluas Kewajiban LHKPN ke Staf Khusus Pejabat, Tekankan Transparansi di 2026

Untuk membantu petani terdampak, dinas membuka peluang bantuan bibit ikan. Pembudidaya yang tergabung dalam kelompok dapat mengajukan proposal atau surat permohonan kepada pemerintah daerah.

“Semua petani difasilitasi selama mereka memiliki kelompok. Kelompok yang terdampak bisa mengajukan bantuan bibit, nanti kita tindak lanjuti,” ujarnya.

Pendataan korban akan dilakukan bersama UPTD Jangari untuk memastikan kelompok pembudidaya dan kepemilikan Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan. Bantuan diberikan sesuai ketersediaan stok dan tidak terbatas pada pembudidaya keramba jaring apung.

Terkait keamanan ikan untuk konsumsi, Yustang menyebut kondisi perairan Cianjur masih dalam batas aman berdasarkan kajian sebelumnya. Namun, ia mengingatkan masyarakat tetap mewaspadai kualitas air saat musim kemarau karena perubahan kondisi perairan dapat membawa zat dari dasar perairan ke permukaan.

Sementara itu, penanganan kualitas air di perairan umum seperti Jangari menjadi kewenangan instansi yang membidangi lingkungan hidup.

Baca juga :  BMKG Tetapkan Status Awas Kekeringan di Empat Provinsi, 76 Persen Wilayah Indonesia Masih Kemarau
Facebook Comments Box
error: Content is protected !!