Dpnews Indonesia || Cianjur – Warga sekitar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kampung Tanjakan Kesik, Desa Mekarsari, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengeluhkan bau tidak sedap yang diduga berasal dari saluran pembuangan air limbah SPPG.
Keluhan tersebut disampaikan warga pada Senin (31/8/2026). Menurut warga, bau menyengat terutama dirasakan oleh masyarakat yang rumahnya berada paling dekat dengan lokasi SPPG.
“Setelah ada SPPG, memang tercium bau tidak enak,” ujar seorang warga.
Meski demikian, warga memastikan kondisi tersebut tidak berdampak terhadap sumber air bersih. Masyarakat di sekitar lokasi tidak menggunakan air sumur, melainkan memperoleh air dari sumber mata air melalui saluran selang.
“Kalau sumur tidak ada di sini. Warga menggunakan selang dari sumber air, jadi sumber air tidak tercemar. Hanya saja baunya yang mengganggu,” katanya.
Warga berharap pengelola SPPG memastikan sistem pengolahan air limbah berfungsi dengan baik sehingga tidak menimbulkan bau maupun mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar.
Pengelola Akui Sempat Terjadi Kesalahan Pemasangan
Kepala SPPG Mekarsari, Adam, membenarkan bahwa sempat terjadi kesalahan dalam pemasangan instalasi pembuangan air limbah. Menurutnya, pada awal pemasangan, pipa pembuangan diarahkan langsung ke selokan tanpa melalui sistem IPAL secara semestinya.
“Saya sebagai kepala langsung berkoordinasi dengan pihak yayasan. Alhamdulillah sudah diperbaiki,” kata Adam.
Ia menjelaskan, kesalahan tersebut terjadi karena pekerja tidak terlebih dahulu memastikan jalur pembuangan. Pipa kemudian dipotong dan dibuatkan bak kontrol, namun aliran air belum melalui proses penyaringan sebelum menuju selokan.
“Kesalahannya dari tukang. Dia tidak bertanya salurannya ke mana, langsung dipotong pipanya. Dia buat bak kontrol, tetapi tidak menyaring dan langsung ke selokan,” jelasnya.
Adam mengatakan, kondisi tersebut sempat menyebabkan air limbah masuk ke selokan ketika debit air meningkat. Namun, menurut dia, perbaikan telah dilakukan sehingga kondisi saat ini dinilai sudah aman.
“Karena airnya besar, otomatis limbah langsung masuk ke selokan. Tapi alhamdulillah sekarang sudah diperbaiki. Yang keluar hanya air, bukan limbahnya,” ujarnya.
Terkait bau yang masih tercium, Adam menduga kondisi tersebut dipengaruhi musim kemarau yang menyebabkan air mengendap di saluran. Selain itu, terdapat pula aliran air dari aktivitas masyarakat sekitar.
“Ada juga masyarakat yang membuang air ke selokan itu, tetapi memang tidak banyak. Kerusakan sudah diperbaiki,” pungkasnya.











