Dpnews Indonesia || Jakarta – Fenomena hujan meteor Lyrids 2026 mencapai puncaknya pada malam Rabu (22/4/2026) hingga dini hari Kamis (23/4/2026). Masyarakat Indonesia berkesempatan menyaksikan hingga 10 hingga 20 meteor per jam di bawah langit gelap yang cerah.
Hujan meteor Lyrids berasal dari sisa debu Komet C/1861 G1 (Thatcher) yang memasuki atmosfer Bumi. Puncak aktivitas terjadi saat Bumi melintasi jalur puing komet tersebut, dengan radiant (titik asal meteor) berada di konstelasi Lyra, dekat bintang Vega. Waktu terbaik pengamatan di Indonesia adalah setelah tengah malam hingga sebelum matahari terbit, khususnya sekitar pukul 02.00 WIB hingga menjelang fajar.
“Puncak hujan meteor Lyrid akan berlangsung pada malam 22 April hingga dini hari 23 April 2026,” ujar sumber astronomi yang dikutip berbagai media, Rabu (22/4/2026).
Untuk mengamati, pilih lokasi jauh dari polusi cahaya kota, seperti daerah pegunungan atau pedesaan. Tidak diperlukan teleskop atau peralatan khusus; cukup mata telanjang dengan pandangan ke arah timur laut. Bulan yang sedang fase sabit tipis (sekitar 27-33 persen) akan membantu langit tetap gelap, meningkatkan visibilitas meteor.
Periode aktif Lyrids berlangsung dari 14 hingga 30 April 2026, namun intensitas tertinggi terjadi pada malam ini. Cuaca cerah menjadi faktor penentu keberhasilan pengamatan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta komunitas astronomi menganjurkan masyarakat memanfaatkan momen langka ini sambil menjaga keselamatan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan gangguan cuaca signifikan di sebagian wilayah Indonesia.











