Dpnews Indonesia || Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang solid di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang berlanjut. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi RI tumbuh 5,61 persen year-on-year (yoy) pada kuartal I-2026, melampaui ekspektasi pasar sebesar 5,3 persen dan lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut didorong utama oleh konsumsi rumah tangga yang naik 5,52 persen, didukung belanja pemerintah yang melonjak 21,8 persen akibat stimulus seperti program makan siang gratis serta tunjangan hari raya. Investasi juga tercatat tumbuh 5,96 persen, meski kinerja ekspor masih lemah di level 0,9 persen.
Sementara itu, rupiah terus mengalami tekanan dan sempat menyentuh rekor terendah di kisaran Rp 17.400 per dolar AS pada awal Mei 2026. Pelemahan ini terjadi meski fundamental ekonomi domestik relatif kuat, dipicu kombinasi faktor eksternal seperti penguatan dolar AS, eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tinggi, serta outflow modal asing dari pasar berkembang.
Bank Indonesia (BI) menyatakan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah, didukung cadangan devisa yang masih memadai. Gubernur BI menekankan prospek pertumbuhan ekonomi 2026 tetap berada di kisaran 4,9–5,7 persen, dengan inflasi terkendali di bawah target.
Analis menilai pelemahan rupiah bersifat sementara dan sejalan dengan mata uang negara lain di kawasan. Namun, hal ini berpotensi meningkatkan beban utang pemerintah dalam valuta asing serta tekanan inflasi impor. Pemerintah dan BI terus bersinergi menjaga stabilitas melalui kebijakan fiskal dan moneter yang prudent.
Ekonom memproyeksikan rupiah berpotensi stabil seiring meredanya ketidakpastian global, meski volatilitas diprediksi masih tinggi sepanjang 2026.











