Dpnews Indonesia || Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah dalam perdagangan terbaru, dipicu peningkatan permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Menurut data pasar, rupiah sempat menyentuh level di atas Rp 17.300 per dolar AS pada akhir April 2026, mendekati rekor terendah baru. Pelemahan ini terjadi seiring penguatan indeks dolar AS (DXY), yang didorong oleh arus modal investor menuju aset yang dianggap aman seperti dolar AS, emas, dan obligasi pemerintah negara maju.
Analis pasar menjelaskan bahwa eskalasi ketegangan di Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan AS dan Iran, menjadi pemicu utama. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar atas gangguan pasokan energi dan inflasi global, sehingga mendorong perilaku risk-off di kalangan investor. Akibatnya, mata uang emerging market seperti rupiah mengalami tekanan jual.
Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam volatilitas berlebih dan menjaga stabilitas rupiah. Namun, tekanan eksternal ini diperkirakan masih berlanjut sepanjang kuartal II 2026 kecuali terjadi de-eskalasi signifikan di kawasan konflik.
Dari sisi domestik, pelemahan rupiah berpotensi menambah beban APBN melalui subsidi energi yang lebih tinggi serta meningkatkan risiko inflasi impor. Pemerintah dan otoritas moneter terus memantau perkembangan untuk menjaga daya tahan ekonomi nasional.
Hingga berita ini ditulis, pergerakan rupiah masih fluktuatif dengan sentimen yang didominasi dinamika global.











