Dpnews Indonesia || Jakarta – Badan meteorologi dunia dan nasional memantau kemunculan fenomena El Niño yang diprediksi mulai terbentuk pada pertengahan 2026. Kali ini, para ilmuwan mewaspadai potensi kekuatan yang lebih intens dibandingkan peristiwa biasa, yang berpadu dengan tren pemanasan global jangka panjang.
Menurut Climate Prediction Center (CPC) NOAA, kondisi netral ENSO saat ini masih dominan hingga April-Juni 2026, tetapi peluang El Niño muncul pada periode Mei-Juli mencapai 61 persen dan diproyeksikan bertahan hingga akhir tahun. Beberapa model bahkan menunjukkan kemungkinan “super El Niño” dengan pemanasan suhu muka laut di Pasifik ekuatorial melebihi 2 derajat Celsius di atas rata-rata.
Mengapa Tahun Ini Berbeda?
El Niño terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur memanas secara signifikan. Hal ini menggeser pola angin dan pembentukan awan hujan, sehingga curah hujan di wilayah Indonesia dan sebagian Asia Tenggara berkurang drastis. Pada 2026, kekhawatiran muncul karena:
- Kombinasi dengan pemanasan global: Tahun-tahun terakhir sudah mencatat rekor suhu tertinggi. El Niño yang kuat berpotensi memperkuat tren ini, membuat 2026 atau 2027 menjadi salah satu tahun terpanas dalam catatan sejarah.
- Pola pemanasan tidak biasa: Peneliti mendeteksi annular warming atau pemanasan melingkar di Pasifik tropis yang lebih kuat, meningkatkan risiko intensitas ekstrem.
- Dampak regional di Indonesia: Musim kemarau diprediksi lebih panjang dan kering, khususnya di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Timur. Risiko kekeringan, krisis air bersih, gagal panen, serta kebakaran hutan dan lahan meningkat tajam. Suhu ekstrem juga mengancam kesehatan masyarakat melalui dehidrasi hingga heat stroke.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bahkan menyebut potensi “El Niño Godzilla” — istilah untuk varian super kuat yang pernah terjadi pada 1982, 1997, dan 2015 dengan dampak kekeringan parah.
Antisipasi yang Diperlukan
BMKG dan lembaga terkait terus memantau perkembangan. Masyarakat diimbau melakukan penghematan air, persiapan irigasi cadangan, serta kewaspadaan terhadap kebakaran. Sektor pertanian dan ketahanan pangan menjadi prioritas utama menghadapi musim kemarau yang lebih ganas.
Fenomena El Niño bersifat alami, namun dampaknya semakin diperburuk oleh perubahan iklim antropogenik. Para ahli menekankan pentingnya adaptasi jangka pendek sekaligus mitigasi emisi gas rumah kaca jangka panjang untuk mengurangi risiko di masa mendatang.
Perkembangan terbaru akan terus dipantau seiring mendekatnya musim kemarau 2026.











