Dpnews Indonesia || Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatat rekor terlemah baru, sempat menembus level Rp 17.900 per dolar AS pada perdagangan awal Juni 2026. Pelemahan ini memperpanjang tren depresiasi mata uang Garuda yang telah berlangsung sejak awal tahun.
Menurut para analis, setidaknya terdapat tiga faktor utama yang menjadi biang kerok pelemahan rupiah kali ini:
1. Ketegangan Geopolitik Timur Tengah
Konflik yang memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak mentah WTI dan Brent naik tajam akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi global, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz. Kondisi ini mendorong investor beralih ke dolar AS sebagai aset safe haven, sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
2. Sinyal Kebijakan The Federal Reserve
Pasar semakin meyakini bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama, bahkan berpotensi menaikkan lagi jika inflasi AS tetap alot akibat harga energi yang melambung. Penguatan indeks dolar AS (DXY) akibat sinyal hawkish The Fed ini semakin membebani rupiah dan mata uang Asia lainnya.
3. Tekanan Domestik dan Capital Outflow
Selain faktor eksternal, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh outflow dana asing dari pasar keuangan Indonesia serta kekhawatiran terhadap inflasi domestik. Sepanjang tahun berjalan, rupiah telah melemah lebih dari 6-10 persen terhadap dolar AS.
Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi di pasar valuta asing dan menaikkan suku bunga acuan untuk meredam tekanan. Namun, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut sepanjang Juni 2026 sebelum tren pemulihan mungkin terjadi di semester kedua.
Pelaku pasar kini memantau perkembangan negosiasi geopolitik di Timur Tengah dan data ekonomi AS berikutnya yang akan dirilis dalam waktu dekat.











