Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Festival Perahu Naga: Tradisi Berusia Lebih dari 2.000 Tahun yang Masih Hidup

126
×

Festival Perahu Naga: Tradisi Berusia Lebih dari 2.000 Tahun yang Masih Hidup

Sebarkan artikel ini

Dpnews Indonesia || Jakarta – Festival Perahu Naga atau Duanwu Jie kembali dirayakan oleh komunitas Tionghoa di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Tradisi yang telah berlangsung lebih dari dua milenium ini tidak hanya menyajikan atraksi balap perahu yang memukau, tetapi juga membawa makna budaya dan sejarah yang mendalam.

Festival ini jatuh pada tanggal kelima bulan kelima penanggalan lunar Tiongkok. Asal-usulnya dikaitkan dengan peringatan penyair dan menteri kerajaan Chu, Qu Yuan (sekitar 340–278 SM). Menurut legenda, Qu Yuan yang dikenal karena integritas dan kecintaannya pada negeri, bunuh diri dengan terjun ke Sungai Miluo sebagai bentuk protes terhadap korupsi dan kekalahan negara. Penduduk setempat kemudian mendayung perahu untuk mencari jasadnya dan melemparkan beras yang dibungkus daun (zongzi) ke sungai agar ikan tidak memakannya.

Baca juga :  Lukman dan P3MI, PT Buana Rizki Diduga Abaikan Jeritan Pekerja Migran asal Sukabumi

Makna dan Tradisi Utama

Perayaan Festival Perahu Naga sarat dengan simbolisme. Balap perahu naga melambangkan semangat kerjasama tim, keberanian, dan upaya menyelamatkan Qu Yuan. Setiap perahu panjang dihiasi kepala dan ekor naga yang menjadi simbol kekuatan dan keberuntungan dalam kebudayaan Tiongkok.

Selain balapan, masyarakat juga menikmati makanan khas seperti zongzi—beras ketan yang dibungkus daun bambu atau daun talas, diisi daging, kacang, atau manisan. Beberapa daerah juga mempraktikkan tradisi menggantung daun wormwood dan calamus di pintu rumah untuk mengusir roh jahat, serta meminum anggur realgar sebagai simbol perlindungan dari penyakit.

Baca juga :  LKPM Majalengka Soroti Wacana Penyeragaman Menu MBG, Nilai Berpotensi Picu Kelangkaan dan Kenaikan Harga Pangan

Di Indonesia, festival ini dirayakan secara meriah di beberapa kota seperti Jakarta, Semarang, dan Singkawang. Komunitas Tionghoa Indonesia menggabungkan tradisi leluhur dengan nuansa lokal, menjadikannya sebagai sarana pelestarian budaya sekaligus promosi pariwisata.

Meski berusia lebih dari 2.000 tahun, Festival Perahu Naga tetap relevan hingga kini. Perayaan ini mengingatkan pentingnya nilai-nilai kesetiaan, keadilan, dan kebersamaan di tengah masyarakat modern. Tahun ini, ribuan peserta di berbagai negara turut meramaikan acara dengan balapan perahu yang semakin kompetitif dan spektakuler.

Baca juga :  Harga Bright Gas di Cianjur Turun Mulai 15 Juli 2026, Tabung 50 Kg Anjlok Rp 102 Ribu, Pembelian Masih Stabil
Facebook Comments Box
error: Content is protected !!