Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Tanam Padi Serentak di Cianjur, Desa Benjot Jadi Simbol Penguatan Swasembada Pangan 2026

100
×

Tanam Padi Serentak di Cianjur, Desa Benjot Jadi Simbol Penguatan Swasembada Pangan 2026

Sebarkan artikel ini

Dpnews Indonesia || Cianjur – Denting alat pertanian dan semangat petani berpadu di hamparan sawah Desa Benjot, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur. Di sinilah “Gerakan Olah Lahan, Semai Benih dan Tanam Serentak Padi digelar serentak bersama 11 kabupaten/kota lain se-Jawa Barat. Komando langsung datang dari Wakil Menteri Pertanian, menjadikan aksi ini bukan sekadar seremoni, tapi langkah konkret menuju swasembada pangan berkelanjutan 2026.

Desa Benjot dipilih sebagai titik simbolis karena representasinya yang kuat. Lahan sawahnya masih subur, petaninya punya etos kerja tinggi, dan pemerintah desanya aktif merangkul kebijakan pusat. Tanam serentak di sini jadi pesan: kebijakan pertanian nasional hanya akan hidup kalau bersinergi langsung dengan pelaku di lapangan.

Baca juga :  Pemerintah Desa Karangsari Gelar Syukuran, Masa Jabatan Kades Diperpanjang

Bagi pemerintah, swasembada pangan berkelanjutan bukan sekadar angka produksi yang naik. Maknanya lebih dalam: menjaga kesuburan tanah agar tidak cepat rusak, memastikan air irigasi tetap mengalir merata, sampai menjamin kesejahteraan petani dari hulu hingga hilir. Tanpa tiga pilar itu, target 2026 hanya akan jadi wacana.

Hasan Munadi, Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Cianjur, menegaskan optimismenya. Desa Benjot punya potensi lahan dan petani yang siap tempur. Lewat gerakan tanam serentak ini kami berharap Cianjur bisa jadi lumbung pangan yang berkelanjutan. Tapi hasilnya harus kembali adil ke petani, lewat harga gabah yang layak dan pasar yang pasti,” ujarnya di sela kegiatan.

Baca juga :  Warga Perumahan Villa Kencana Cikarang RT 001 RW 011 Kompak Memperindah Lingkungan Antara Blok

Gerakan ini menargetkan tiga kontribusi besar. Pertama, menjaga luas tambah tanam agar lahan produktif tidak beralih fungsi. Kedua, mendongkrak produktivitas padi lewat benih unggul dan teknik tanam yang tepat. Ketiga, memperkuat cadangan beras daerah supaya ketahanan pangan lokal makin kokoh saat musim rawan.

Jika dilakukan serentak dan konsisten, Cianjur punya peluang besar menjadi daerah penyangga pangan nasional. Dengan topografi dan iklimnya, Cianjur bisa mengurangi ketergantungan impor beras. Model Benjot bisa ditiru daerah lain: tanam bersama, rawat bersama, panen bersama.

Komitmen petani Cianjur tidak berhenti di tanam. Bersama stakeholder terkait, mereka berjanji merawat tanaman sampai panen. Dukungan awal sudah datang berupa bantuan benih dan pupuk bersubsidi. Namun petani berharap ada keberlanjutan: sarana produksi datang tepat waktu, harga gabah sesuai HPP, dan serapan Bulog berjalan sesuai Inpres No. 6/2025.

Baca juga :  Industri Maklun Berkedok Teaching Factory: Pelanggaran Hak Konstitusi Buruh

Bagi para petani, kepastian harga adalah napas. Mereka tidak minta subsidi berlebih, hanya minta harga yang adil saat panen tiba. Kalau negara hadir menjaga pasar, maka semangat menanam tidak akan padam meski cuaca dan hama datang silih berganti.

Semoga tanam serentak di Benjot ini jadi awal rantai panjang keberlanjutan pangan. Petani semangat menanam, negara hadir menjaga harga dan pasarnya,” tegas Hasan menutup. Dari lumpur sawah Benjot, harapan swasembada 2026 mulai ditancapkan, satu bibit padi dalam satu waktu.

Baca juga :  Didit Prabowo Hadiri Perayaan Ulang Tahun ke-67 Titiek Soeharto di DPR
Facebook Comments Box
error: Content is protected !!