Dpnews Indonesia || Jakarta – Bitcoin Depot, operator jaringan ATM Bitcoin terbesar di Amerika Utara yang terdaftar di Nasdaq, resmi mengajukan kebangkrutan Chapter 11. Perusahaan ini sekaligus menonaktifkan seluruh jaringan ATM kriptonya yang mencakup ribuan unit di Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.
Menurut pernyataan resmi perusahaan yang dirilis Senin (18 Mei 2026), proses pengajuan kebangkrutan dilakukan secara sukarela di Pengadilan Kebangkrutan AS untuk Distrik Selatan Texas. Tujuannya adalah melakukan wind-down operasi secara tertib dan menjual aset perusahaan di bawah pengawasan pengadilan. Seluruh jaringan ATM Bitcoin Depot telah dimatikan.
Pada September 2025, perusahaan yang berbasis di Atlanta ini mengoperasikan lebih dari 9.000 kios ATM kripto di berbagai lokasi ritel. CEO Bitcoin Depot, Alex Holmes, menyatakan bahwa model bisnis perusahaan tidak lagi berkelanjutan akibat tekanan regulasi yang semakin ketat di tingkat negara bagian, termasuk pembatasan transaksi, larangan operasional di beberapa wilayah, serta biaya kepatuhan yang tinggi.
Selain itu, perusahaan menghadapi penurunan pendapatan signifikan hingga 49% pada kuartal pertama 2026, kerugian bersih, serta tudingan terkait penyalahgunaan ATM untuk kegiatan penipuan. Sebelumnya, Bitcoin Depot juga melaporkan kerugian sekitar US$3,6 juta akibat serangan siber.
Keputusan ini menandai pukulan berat bagi industri ATM kripto yang sempat berkembang pesat, namun kini menghadapi pengawasan ketat dari regulator karena kekhawatiran fraud dan biaya tinggi bagi pengguna.
Hingga berita ini diturunkan, saham Bitcoin Depot (BTM) dilaporkan anjlok tajam pasca pengumuman tersebut. Proses penjualan aset diperkirakan akan melibatkan entitas di AS, Kanada, serta yurisdiksi lain sesuai hukum yang berlaku.











