Dpnews Indonesia || Cianjur – Pemerintah melalui Perum Bulog mengganti identitas beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menjadi Beras Kita Medium. Perubahan tersebut akan diterapkan secara bertahap seiring habisnya stok kemasan lama di pasaran.
Kepala Kantor Cabang Perum Bulog Cianjur, Muhammad Azwar Fuad, mengatakan perubahan nama dan kemasan merupakan arahan Bulog pusat untuk memperkuat identitas program stabilisasi beras medium sekaligus memudahkan masyarakat mengenalinya.
Perubahan paling mencolok terdapat pada kemasan. Jika SPHP sebelumnya menggunakan warna kuning-hijau, Beras Kita Medium akan hadir dengan kemasan berwarna biru muda.
“Tidak ada perubahan kualitas. Kualitasnya tetap sama dan masih masuk kelas beras medium,” ujar Azwar saat ditemui di Kantor Bulog Cianjur.
Ia menegaskan beras tersebut tetap memenuhi standar teknis beras medium yang ditetapkan pemerintah, termasuk ketentuan kadar air, butir patah, dan spesifikasi lainnya.
Di Cianjur, Beras Kita Medium saat ini dijual sekitar Rp12.500 per kilogram, masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium yang berada di kisaran Rp13.500 per kilogram.
Menurut Azwar, program tersebut tetap bertujuan menjaga ketersediaan beras sekaligus mengendalikan harga di tingkat konsumen. Penyaluran akan terus diperluas agar masyarakat, terutama kelompok rentan, mendapatkan beras dengan harga terjangkau.
Dalam masa transisi, masyarakat masih akan menemukan kemasan SPHP lama. Bulog memastikan kemasan yang sudah beredar tidak ditarik secara paksa.
“Tidak ada penarikan kemasan SPHP yang sudah beredar. Setelah stok kemasan lama habis, baru digunakan kemasan baru,” jelasnya.
Selain beras medium, pemerintah juga menyiapkan sekitar 75 ribu ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) kelas premium sebagai instrumen intervensi harga.
Azwar berharap perubahan identitas tersebut dapat mendukung stabilitas harga beras di Cianjur. Bulog juga mendorong perluasan jaringan Rumah Pangan Kita (RPK) agar distribusi beras semakin menjangkau desa dan kecamatan.
Khusus wilayah Cianjur dan Sukabumi, Azwar menyebut beras yang disalurkan Bulog berasal dari penyerapan gabah petani lokal dan tidak menggunakan beras impor sepanjang 2025 dan 2026.
Dengan perubahan nama dan kemasan tersebut, Bulog berharap Beras Kita Medium dapat memperluas akses masyarakat terhadap beras terjangkau sekaligus memperkuat upaya pemerintah menjaga stabilitas pangan.











